Postingan

Aura

Gadis itu berdiri dengan tegap menghadap Sang Surya yang hendak beristirahat. Semburat langit oranye kekuningan menjadi latar belakang yang sempura baginya. Rambutnya yang warna coklat tampak keemasan dengan siraman sinar sore. Dari belakang pun tampak jelas, bahwa sekujur tubuh gadis itu kaku.                 Tak ada senyum yang menghiasi wajahnya. Bibirnya terkatup rapat dengan tegang. Tatapan matanya   sangat jauh, entah melayang ke mana. Kedua telapak tangannya tergenggam dengan kuat di samping tubuhnya. Ia tak berusaha untuk mengatasi angin yang terus meniupi dirinya, mengacaukan rambutnya, mengibarkan ujung-ujung pakaiannya. Ia biarkan dirinya dimiliki oleh alam untuk saat itu.                 Hatinya rapuh sudah. Hanya satu sentuhan saja, hancurlah jadi berkeping-keping. Ia tak peduli lagi. Biarlah hatinya hancur, yan...

Meringkuk

Pekatnya awan malam memudarkan sinar Sang Dewi. Kecantikannya tertutup, semakin lama semakin lenyap dari angkasa. Padahal, seharusnya malam ini ia dapat memancarkan kecantikannya pada seluruh penjuru semesta. Seharusnya, semua mata tertuju padanya, terkagum akan pesonanya, dan membuat suasana begitu manis bagi setiap orang tanpa terkecuali. Seharusnya.                 Malam ini, angin bertiup cukup kencang, mendorong ranting-ranting bergesekan satu sama lain dan daun-daun melambai-lambai menyambut malam yang kian pekat. Udara menembus masuk dalam kamarku, memicuku untuk menarik selimut semakin tinggi. Mala mini seolah menjadi malam yang sangat sempurna untukku. Seluruh jagat raya dan semesta mendukungku. Mendukungku untuk meringkuk seperti bayi yang baru lahir dan meratapi diriku saat ini.                 Kalau boleh kembali ke masa la...

Cahaya di Penjuru Hati: Sebuah kisah yang menyihir setiap insan pembaca

Gambar
Sebuah kisah hidup yang penuh liku disajikan dengan sangat apik oleh penulis favorit saya, Alberthiene Endah. Bagi sebagian orang, mungkin kisah hidup alias biografi tergolong membosankan, karena alurnya yang begitu-begitu saja tanpa ada bumbu-bumbu fantasi di dalamnya. Bagi mereka penikmat biografi, tentu, biografi menyajikan kekhasannya sendiri yang membedakannya dengan jenis buku lainnya. Namun, kali ini, saya kira kisah pemilik Andi Publisher mampu menyihir setiap pembacanya dalam dunianya, tanpa terkecuali. Alurnya sangat menarik                 Pada setiap babnya, kisah diawali dengan kondisi pada tahun 2014, di mana J.H. Gondowijoyo berada pada titik kritis hidupnya untuk kesekian kali. Belahan jiwanya, jantung hatinya, bidadarinya, Liliawati Gondowijoyo tertidur selama beberapa waktu lamanya dalam ruang ICU. Namanya saja belahan jiwa, J.H. Gondowijoyo dikisahkan sungguh amat sedih dengan ko...

Senandika

Kutekuk kakiku dengan rapi di depan tubuh mungilku. Kupeluk erat-erat kakiku, seolah aku takut kehilangan suatu hal dariku. Kutempelkan sebagian wajahku pada lututku. Sebagian tubuhku menempel pada dinding yang berdiri tegak untuk menopang tubuhku. Mataku terpejam sangat rapat, teramat rapat bahkan. Ragaku di sini, tapi entahlah ke mana larinya jiwa serta pikiranku. Matahari yang menembus lewat kaca jendela di ketinggian menghangatkan tubuhku, seharusnya. Nyatanya, tidak sama sekali. Aku justru merasa dingin. Sekujur tubuhku terasa dingin, hatiku terasa beku. Sinar sang surya yang biasanya merangsang senyumku, justru kini memacuku untuk memusnahkan senyum itu. Tak ada sedikitpun minat untuk membangkitkan suasana hatiku yang kacau. Masih samar proyeksi kebahagiaan yang tersimpan dalam skemata. Setidaknya aku pernah bahagia , hiburku dalam hati. Terlintas dalam benakku, masa kecil tanpa beban – berlari mengejar gulungan kecil ombak, menari di tengah teriknya siang, dan menghitu...

Ke mana?

Surya membangunkannya pagi itu. Matanya yang terpejam tergugah untuk segera terbuka, menyambut pancaran sinar yang masuk menembus lewat jendela kamarnya. Malam telah berlalu, namun rasa gundah itu masih belum berlalu dari hatinya. Rasa kalut masih menyelimuti hatinya. Matanya tergoda untuk sekali lagi terpejam, mengenang perasaannya semalam.                 Ia duduk merenung menatap objek langit di malam hari yang begitu cantik berbentuk bulat sempurna. Buku terbuka di atas mejanya, semua peralatan tulis sudah siap digunakan, dan lampu meja telah dinyalakannya sedari tadi. Namun, tidak ada tindakan yang dilakukannya selain bertopang dagu sambil memandang kecantikan rembulan. Ya, rembulan membangkitkan sisi melankolinya.                 Ke mana dia? Ia bertanya-tanya dalam hatinya. Pikirannya begitu kacau, banyak hal yang dipikirka...

The Blessing of Busyness

1 Korintus 15:10-11 "Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku. Sebab itu, baik aku, maupun mereka, demikianlah kami mengajar dan demikianlah kamu menjadi percaya."           Menjadi sibuk adalah hal yang menyenangkan bagi sebagian orang. Bagaimana tidak, kita tidak perlu berpusing-pusing mencari ide apa yang harus dilakukan selama waktu senggang. Waktu yang ada akan terasa berlalu begitu cepat ketika kita menyelesaikan tiap pekerjaan satu per satu.           Jika ditarik ke belakang dan mengingat-ingat, sebenarnya, kita memiliki kesibukan karena memang kita terlahir untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan. Entah itu kesibukan di dunia pendidikan, pekerjaan, dan...

Menyelisik Tubuh Gereja HKY Surabaya

Well , sebenarnya tulisan ini dibuat dalam rangka praktik menulis saat pelatihan jurnalistik dan fotografi yang diselenggarakan oleh Seksi Komsos Paroki Hati Kudus Yesus (HKY) Surabaya. Sayang jika tidak di- publish. Here it is, enjoy it guys! * - * - * Berdiri di Jalan Polisi Istimewa 15 Surabaya, Gereja Katolik Hati Kudus Yesus (HKY) dikenal sebagai Katedral di Surabaya. Tubuhnya masih tegak berdiri walau telah berdiri sejak 1920. Wajahnya tak berbeda jauh dengan gereja katolik lain di Surabaya yang sudah dibangun bertahun-tahun yang lalu – bergaya arsitektur kolonial Belanda. Baik dari segi eksterior maupun interiornya tak banyak mengalami perubahan. Eksteriornya dibangun secara simetris antara sisi kiri maupun kanannya, seperti pintu, jendela, dan ruang pengakuan dosa. Sedangkan pada bagian interiornya, jendela di dinding atas dihiasi oleh gambar-gambar khas gereja. Tak hanya bangunan gereja utama yang digunakan untuk Perayaan Ekaristi yang menarik untuk disoroti. Berges...

Rindu di Malam Minggu

Sendu di wajahnya tak lagi dapat dipungkiri. Tiada gerut kesedihan yang terlukis dari bibirnya yang sanggup disembunyikan. Matanya tak lagi bercahaya memancarkan kebahagiaan. Emosi di wajahnya tak lagi mengembang seperti biasanya. Semuanya telah musnah, seolah tidak ada lagi jejak kebahagiaan yang pernah mengisi hari-harinya. Kepalanya tersender pada tiang jendela besar tempatnya bertengger. Kakinya ditekuk di depan dadanya. Kedua tangannya memeluk kakinya.                 Suasana alam seolah memahami apa yang ia rasakan. Rasa tertahan yang begitu lama tak pernah ia sampaikan. Hujan terus turun tanpa ada tanda berhenti. Terus, dan terus. Kian deras, malahan. Suara tetes hujan di atas genting mengisi keheningan dalam hati serta pikirannya.                 Ya, sebenarnya rumahnya tak sepi. Cukup ramai bahkan. Ada beberapa keluarga jauh...

Palma.

Gambar
picture: Felicia Luvena (luvenafelicia) Lima pekan berlalu sangat cepat, Bak sekedipan mata Tak terasa sedikitpun, Sungguh terlalu cepat                 Sisa sepekan, hanya sepekan                 Sepekan lagi untuk mempersiapkan diri                 Sepekan lagi untuk mengakhiri                 masa retret agung   ini Ratusan helai palma dilambaikan Ribuan tangan menjunjung tinggi Ratusan helai palma menari diudara Ribuan tangan berebut siraman air suci                 Sukacita, gelak tawa, dan kegembiraan             ...

Rapuh

Iya, memang aku rapuh! Rapuh, tak kuat sedikitpun! Bahkan, badanku tak cukup kuat tuk menanggung bebanku sendiri Lelah, aku lelah Sampai kapan, tampak tak ada ujung Mana jalan keluar, mengapa tak ada tanda-tanda? Tak bolehkah aku keluar dari perangkap menyebalkan ini? Tangis tak lagi bisa dibendung Deru air mata terus mengalir Mengeluarkan setiap luka yang tersimpan dalam pelupuk mata Membasahi pipi, menghapus semua noda kesedihan Aku ingin berdiri, belari, Menjauh dari dunia yang gelap ini Aku rindu akan tiap kebahagiaan Yang selalu mengisi hariku Kemana mereka semua? Apakah mereka alergi terhadapku? Sungguh, siapapun, tolonglah aku! Aku tak mau jatuh terpuruk di sini Aku tak ingin hidup di sini Aku tak ingin bertahan dalam situasi ini Kumohon, lenyapkan aku dari situasi ini

Bintang

Sendiri lebih baik, pikirnya                 Di antara jutaan bintang dalam satu gugusnya, ia memang lain dari yang lain. Ketika hampir seluruh bintang tersebut berkumpul pada posisi tertentu, ia memilih untuk sendiri. Entahlah, ia tak ingat bagaimana kelahirannya. Ia tak ingat, apakah ia yang memilih untuk sendiri, atau sebaliknya ia memang terlahir untuk sendiri.                 Tak selamanya ia sendiri. Siklus rotasi yang dijalaninya di angkasa luas sesekali membuatnya berjumpa dengan beberapa rekan. Beberapa rekan membuatnya merasa berkelompok ternyata mengasyikan. Beberapa rekan justru membuatnya merasa sendiri adalah hal yang terindah yang dianugerahkan semesta kepadanya.                           ...

Kilat di Ujung

Sebuah tatapan terarah padaku dengan begitu tajam. Aku mengenal tatapan itu, bisik hatiku. Pemilik tatapan itu – seorang pemuda – masih berdiri di ujung jalan. Perawakannya tinggi besar, dengan rambut gaya terkini – entah aku tak tahu apa nama jenis rambut tersebut – dan pakaiannya juga menunjukkan bahwa kini ia bertumbuh kian dewasa dengan pakaiannya yang tampak formal. Lepas dari semuanya, ada suatu hal yang membuatku tak asing – tatapannya. Sebuah tatapan yang membawaku bernostalgia pada kejadian tujuh tahun lalu. ***                 “Iya, kamu!” bentak seorang kakak kelas. Wajahnya begitu garang, membuatku ketakutan. Merasa tak dipanggil, aku menoleh ke sisi kanan dan kiriku, mencari-cari siapakah yang dimaksudkan oleh kakak senior ini.                 “Hei, kamu! Yang lagi nolah-noleh itu!” Astaga, benarkah diriku yan...

Menapak Realita [2]

Dengan tegas kusampaikan pendapatku bahwa yang paling bertanggung jawab atas penjebakan diri kita sendiri pada rutinitas adalah diri kita sendiri. Ya, DIRI KITA SENDIRI. Bagiku, rutinitas bukanlah suatu hal yang dapat disalahkan sebagai suatu yang memerangkap kita. Sebaliknya, kita sendirilah yang tanpa kita sadari memerangkap diri dalam rutinitas. Dan, parahnya, kita memerangkap diri kita dalam rutinitas yang tidak membangun masa depan.   Bagiku, kita tidak dapat munafik dengan berkata kita bisa hidup dalam rutinitas. Bangun pagi, menggosok gigi, kemudian mandi adalah bentuk kecil dari rutinitas. Jadi, hiduplah dalam rutinitas yang dapat membangun masa depan. Rutinitas yang baik akan membentuk pondasi yang baik bagi berdirinya bangunan masa depan kita. Dengan kata lain, melalui rutinitas tersebut kita akan berpindah dari satu titik ke titik lainnya secara vertikal. Sebaliknya, rutinitas yang ‘biasa’ akan membawa kita hanya bergeser dari satu titik ke titik lainnya secara horiz...

Menapak Realita [1]

Muda, kuat, dan bebas. Itulah yang kurasakan saat ini. Berjiwa muda dengan sejuta mimpi yang ingin diraih, tubuh jasmani yang masih mampu melakukan berbagai hal sendiri, serta bebas melakukan apa saja yang kuingin lakukan tanpa ada batasan. Namun, akhir-akhir ini aku menyadari satu hal: benarkah jenis kehidupan ini yang sedang kujalani bersama rekan sebaya? Jika dilihat saat ini, ya, memang itulah kehidupan yang sedang kujalani. Seolah tidak ada halangan yang merintang keinginanku, selama keinginan tersebut adalah suatu hal yang baik. Tak lupa, harus menjalani rutinitas sehari-hari. Sebagai seorang mahasiswa yang memiliki kesempatan belajar yang luar biasa di antara 2% penduduk Indonesia yang mampu berkuliah, tentu aku sangat bangga menjalani ‘rutinitas’ tersebut. Dengan berbagai kebutuhan yang serba terpenuhi, aku dapat berfokus menempuh studiku.

Hampa

Kenapa kehampaan ini lagi-lagi menyerbu relung hatinya?             Otaknya berpikir keras seminggu terakhir. Tak ada karya yang mampu dihasilkannya, entah tulisan ataupun potret foto. Baginya, menulis adalah separuh napasnya. Seminggu ini ia tak menulis – berarti ia sudah kehilangan napasnya seminggu terakhir. Baginya, memotret adalah tatapan matanya. Seminggu ini ia tak memotret – berarti sepekan sudah ia menutup matanya rapat-rapat.             Banyak pekerjaan yang menanti untuk diselesaikan. Namun, hingga kini, tak ada satupun pekerjaan yang mampu ia selesaikan. Lelah. Hanya itu yang dirasakannya. Seolah, ada beban ribuan ton yang menimpa pundaknya, dan ia tak mampu menahan beban itu lagi. Sungguh, ia terlampau lelah untuk memikirkan apa yang sedang terjadi pada dirinya saat ini.

Ilusi

Di sinilah aku saat ini. Entah sudah berapa banyak waktu yang kubuang, untuk terjebak dalam lamunan berkepanjangan yang tiada akhir. Seolah sudah seabad lamanya aku menikmati ‘hidangan nikmat’ yang disajikan dunia ini. Begitu manis, dan sedap rasanya. Dunia begitu baik hingga menyediakannya untuk diriku, dan hanya untuk diriku seorang.                 Dunia sedang berpihak kepadaku. Ia terus menuangkan kisah-kisah bahagia yang layak untuk memberikan kesenangan tersendiri di hari-hariku yang suntuk ini. Sungguh, dunia membuatku jatuh cinta pada dirinya yang begitu baik padaku, akhirnya. Walau, terkadang ia harus meneteskan rasa pahit agar hidupku lebih proporsional.

Ragu

Ia menutup bukunya. Terdengar suara ‘buk’ kecil yang ditimbulkan, memecahkan keheningan ruangan di lantai dua tersebut. Di ruangan ini, semua cerita tentang kehidupannya tersimpan rapi. Sangat rapi. Entah dalam bentuk coretan di atas buku harian, berbagai file Microsoft Word , dan berbagai foto yang disimpan rapi dalam album. Tak ada yang tahu. Semuanya disimpan dengan penuh keamanan. Buku harian serta album foto disimpan dalam sebuah kotak cokelat yang nampak usang. File Microsoft Word diamankan dengan kunci rahasia yang hanya diketahuinya.                 Ya, ia sangat ahli dalam menyembunyikan rahasia tentang kehidupannya. Tak ada seorang teman pun yang tahu versi lengkap kehidupannya. Terutama, topik yang krusial – kisah cintanya . Ia tak terlalu suka membicarakan hal ini di banyak orang. Menurutnya, cukup dirinya dan alam semesta yang tahu. Hanya alam semesta yang mampu merasakan segala rasa yang dia...

Retrouvailles

Gambar
BUK! Sebuah novel yang cukup tebal terjatuh dari rak penyimpanannya. Gadis itu sedikit menggerutu kesal.   Lagi-lagi, karena ia terburu-buru mencari novel yang dijadikannya sebagai sumber ide proyek terbarunya, ada novel lain yang tak ia cari justru terjatuh. Beruntung, tak jatuh mengenai kepalanya. Ponsel yang tadi digenggam pada tangan kirinya, kini ia letakkan di atas kasur yang berada di sebelah raknya persis. Seolah ada batu yang dilemparkan tepat ke dadanya, itulah yang ia rasakan ketika ia melihat apa yang ia temukan pada novel yang terbuka di atas lantai tersebut. Sebuah pembatas buku , mungkin dengan demikian dapat dinamai. Namun, sebenarnya, benda berbentuk persegi panjang tersebut adalah sebuah foto. Ya, sebuah foto. Foto yang menyimpan kenangan yang sangat ia rindukan. Gadis itu meraih foto beserta novel tersebut. Terdiam beberapa saat melihat foto tersebut, sambil mengusapnya perlahan. Di mana dia sekarang? Apakah dia masih mengingatku, atau sudah sukses me...