Postingan

Menampilkan postingan dengan label Articles

Cahaya di Penjuru Hati: Sebuah kisah yang menyihir setiap insan pembaca

Gambar
Sebuah kisah hidup yang penuh liku disajikan dengan sangat apik oleh penulis favorit saya, Alberthiene Endah. Bagi sebagian orang, mungkin kisah hidup alias biografi tergolong membosankan, karena alurnya yang begitu-begitu saja tanpa ada bumbu-bumbu fantasi di dalamnya. Bagi mereka penikmat biografi, tentu, biografi menyajikan kekhasannya sendiri yang membedakannya dengan jenis buku lainnya. Namun, kali ini, saya kira kisah pemilik Andi Publisher mampu menyihir setiap pembacanya dalam dunianya, tanpa terkecuali. Alurnya sangat menarik                 Pada setiap babnya, kisah diawali dengan kondisi pada tahun 2014, di mana J.H. Gondowijoyo berada pada titik kritis hidupnya untuk kesekian kali. Belahan jiwanya, jantung hatinya, bidadarinya, Liliawati Gondowijoyo tertidur selama beberapa waktu lamanya dalam ruang ICU. Namanya saja belahan jiwa, J.H. Gondowijoyo dikisahkan sungguh amat sedih dengan ko...

The Blessing of Busyness

1 Korintus 15:10-11 "Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku. Sebab itu, baik aku, maupun mereka, demikianlah kami mengajar dan demikianlah kamu menjadi percaya."           Menjadi sibuk adalah hal yang menyenangkan bagi sebagian orang. Bagaimana tidak, kita tidak perlu berpusing-pusing mencari ide apa yang harus dilakukan selama waktu senggang. Waktu yang ada akan terasa berlalu begitu cepat ketika kita menyelesaikan tiap pekerjaan satu per satu.           Jika ditarik ke belakang dan mengingat-ingat, sebenarnya, kita memiliki kesibukan karena memang kita terlahir untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan. Entah itu kesibukan di dunia pendidikan, pekerjaan, dan...

Menapak Realita [2]

Dengan tegas kusampaikan pendapatku bahwa yang paling bertanggung jawab atas penjebakan diri kita sendiri pada rutinitas adalah diri kita sendiri. Ya, DIRI KITA SENDIRI. Bagiku, rutinitas bukanlah suatu hal yang dapat disalahkan sebagai suatu yang memerangkap kita. Sebaliknya, kita sendirilah yang tanpa kita sadari memerangkap diri dalam rutinitas. Dan, parahnya, kita memerangkap diri kita dalam rutinitas yang tidak membangun masa depan.   Bagiku, kita tidak dapat munafik dengan berkata kita bisa hidup dalam rutinitas. Bangun pagi, menggosok gigi, kemudian mandi adalah bentuk kecil dari rutinitas. Jadi, hiduplah dalam rutinitas yang dapat membangun masa depan. Rutinitas yang baik akan membentuk pondasi yang baik bagi berdirinya bangunan masa depan kita. Dengan kata lain, melalui rutinitas tersebut kita akan berpindah dari satu titik ke titik lainnya secara vertikal. Sebaliknya, rutinitas yang ‘biasa’ akan membawa kita hanya bergeser dari satu titik ke titik lainnya secara horiz...

Menapak Realita [1]

Muda, kuat, dan bebas. Itulah yang kurasakan saat ini. Berjiwa muda dengan sejuta mimpi yang ingin diraih, tubuh jasmani yang masih mampu melakukan berbagai hal sendiri, serta bebas melakukan apa saja yang kuingin lakukan tanpa ada batasan. Namun, akhir-akhir ini aku menyadari satu hal: benarkah jenis kehidupan ini yang sedang kujalani bersama rekan sebaya? Jika dilihat saat ini, ya, memang itulah kehidupan yang sedang kujalani. Seolah tidak ada halangan yang merintang keinginanku, selama keinginan tersebut adalah suatu hal yang baik. Tak lupa, harus menjalani rutinitas sehari-hari. Sebagai seorang mahasiswa yang memiliki kesempatan belajar yang luar biasa di antara 2% penduduk Indonesia yang mampu berkuliah, tentu aku sangat bangga menjalani ‘rutinitas’ tersebut. Dengan berbagai kebutuhan yang serba terpenuhi, aku dapat berfokus menempuh studiku.

Macet: Salah Siapa? [opinion]

Asap polusi dan suara bising klakson sudah menjadi teman akrabku semenjak aku kecil. Ya, mungkin itulah yang disebut sebagai salah satu 'karunia' berkampung halaman di sebuah kota metropolitan, kota terbesar kedua se-Indonesia. Ditemani sepeda motor matik merah itu, kuselusuri berbagai sudut kota. Tak banyak pemandangan yang berbeda. Kendaraan bermotor di mana-mana. Bahkan, jika dilihat-lihat, sepeda motor yang baru lepas dari pemberhentian oleh lampu lalu lintas tampak seperti lebah yang baru keluar dari sarangnya.