Postingan

Menampilkan postingan dengan label Love Story

Hai,

Ah, akhirnya yang kunanti tiba. Deretan bulan dipenghujung tahun selalu membawa aura tersendiri -- liburan, target, rencana, berpadu menjadi satu dengan indahnya. Tapi entahlah, aku tak dapat menentukan perasaan hati yang tepat untuk momen ini. Sedih, tidak mungkin. Bahagia, juga tidak mungkin. Senandung lagu sendu berhasil memaksaku keluar dari ruang persembunyianku. Betapapun aku mencintai perpustakaan dengan segala kelebihan dan kekurangannya, instrumen bernada menyedihkan tak bisa kutolerir. Akhir-akhir ini, tepatnya. Bersama tiga jenis buku yang kupilih, kuputuskan untuk menyusuri jalanan kota. Kelopak Tabebuya mulai menghiasi trotoar, jalanan, atau objek apapun yang angin kehendaki untuknya. Kuning, putih, merah muda -- pohonnya tak lagi mempesona. Mungkin, setelah ini dia akan dilupakan sampai pada musimmnya. "Hai. Belum bosan mengumpulkan kelopak bunga tak berguna itu?" Suara tak asing menyapa telingaku, menyayat batin, dan mengoyakan kotak ingatan yang telah ...

Keping Emosi

Yang keempat. --- Senja kembali menjemput dengan cepat. Sepertinya, matahari sudah tak sanggup lagi menahan rindu kepada horizon yang menantinya pulang. Sudah saatnya matahari untuk beristirahat, Tumpukan berkas masih menggunung di atas meja Elena, mengapit laptop yang sudah menyala lebih dari delapan jam lamanya. Dekorasi yang menghias meja kantor pun juga tertimbun di lautan berkas. Jemari Elena yang memukul-mukul tombol keyboard terdengar dengan volume yang keras dan cepat, memecah keheningan. Sebagian besar karyawan memilih untuk pulang sebelum jam kemacetan memuncak. "Proyek Mr. Primus?" tanya seseorang. "Ah, ya, benar sekali," jawab Elena. "Akhirnya, pertanyaan saya dijawab." "Maksudmu?" "Saya bertanya sebanyak lima kali, dan pertanyaan kelima yang kaujawab," ucapnya. "Apakah masih ada yang bisa kulakukan? Sepertinya hari semakin malam dan Anda masih sangat sibuk dengan pekerjaan. Sebagai rekan satu tim, say...

Keping Emosi

Yang ketiga. --- Ah, sial! Apakah tubuhku melayang semalam hingga bisa mendarat sempurna dengan dibungkus selimut hangat ini? ! Sinar mentari yang menembus jendela dengan malu-malu memaksa Elena membuka matanya. Ya, Elena hanya bisa tidur di tengah kegelapan total. Sedikitpun cahaya yang berani menerobos area wajahnya, dia akan dengan sangat segera terbangun. Belum lagi, pagi ini dilengkapi dengan getar ponsel berulang-ulang. " Good morning, Sunshine ?" sapa Olivia di ujung telepon. "Sudah pulas tidurmu? Sudah segar tubuhmu? Sudah siap dengan tumpukan deadline hari ini? Sudah siap meeting bersama Mr. Primus dan Mrs. Renata?" "Astaga, Olivia. Kesadaranku baru terkumpul satu persen. Tolong jangan bicarakan urusan pekerjaan di telepon ketika masih terlalu pagi." "Aku harap kau sedang bergurau. Sebab, dalam empat puluh tiga menit lagi, kita akan briefing bersama dengan Liu Wen the Big Boss. Itu artinya, tidak ada kata terlambat...

Keping Emosi

Yang kedua. --- Musim gugur 2006. Kamis tak pernah menjadi hari yang sibuk. Namun, di hari ini, lautan manusia menguasai halte mungil di depan gedung perkantoran dengan sembian lantai ini. Mentari yang menyilaukan semakin menuju ke barat. Mereka yang menanti, memicingkan mata menantang mentari, demi melihat secara langsung kedatangan bus. Seorang perempuan yang baru keluar dari gedung perkantoran tersebut mendesah. Seharusnya dia mengikuti kata hatinya untuk mengambil jam lembur. Namun, fisiknya memberontak dan memaksa dia untuk pulang. Badannya belum pulih betul akibat penerbangan jarak panjang yang ditempuhnya kemarin. Sekarang, inilah akibatnya.  Lebih baik kerja lembur tanpa mendapatkan bonus daripada harus berdiri berdesakan dengan orang-orang yang berkeringat ini, pikirnya. Setelah menanti sekitar dua pulub tiga menit, bus yang dinanti-nanti akhirnya tiba. Mendadak, lautan manusia yang telah lesu, serempak menjadi semangat. Sama semangatnya ketika mendapatkan jackpo...

Senandika

Kutekuk kakiku dengan rapi di depan tubuh mungilku. Kupeluk erat-erat kakiku, seolah aku takut kehilangan suatu hal dariku. Kutempelkan sebagian wajahku pada lututku. Sebagian tubuhku menempel pada dinding yang berdiri tegak untuk menopang tubuhku. Mataku terpejam sangat rapat, teramat rapat bahkan. Ragaku di sini, tapi entahlah ke mana larinya jiwa serta pikiranku. Matahari yang menembus lewat kaca jendela di ketinggian menghangatkan tubuhku, seharusnya. Nyatanya, tidak sama sekali. Aku justru merasa dingin. Sekujur tubuhku terasa dingin, hatiku terasa beku. Sinar sang surya yang biasanya merangsang senyumku, justru kini memacuku untuk memusnahkan senyum itu. Tak ada sedikitpun minat untuk membangkitkan suasana hatiku yang kacau. Masih samar proyeksi kebahagiaan yang tersimpan dalam skemata. Setidaknya aku pernah bahagia , hiburku dalam hati. Terlintas dalam benakku, masa kecil tanpa beban – berlari mengejar gulungan kecil ombak, menari di tengah teriknya siang, dan menghitu...

Rindu di Malam Minggu

Sendu di wajahnya tak lagi dapat dipungkiri. Tiada gerut kesedihan yang terlukis dari bibirnya yang sanggup disembunyikan. Matanya tak lagi bercahaya memancarkan kebahagiaan. Emosi di wajahnya tak lagi mengembang seperti biasanya. Semuanya telah musnah, seolah tidak ada lagi jejak kebahagiaan yang pernah mengisi hari-harinya. Kepalanya tersender pada tiang jendela besar tempatnya bertengger. Kakinya ditekuk di depan dadanya. Kedua tangannya memeluk kakinya.                 Suasana alam seolah memahami apa yang ia rasakan. Rasa tertahan yang begitu lama tak pernah ia sampaikan. Hujan terus turun tanpa ada tanda berhenti. Terus, dan terus. Kian deras, malahan. Suara tetes hujan di atas genting mengisi keheningan dalam hati serta pikirannya.                 Ya, sebenarnya rumahnya tak sepi. Cukup ramai bahkan. Ada beberapa keluarga jauh...

Bintang

Sendiri lebih baik, pikirnya                 Di antara jutaan bintang dalam satu gugusnya, ia memang lain dari yang lain. Ketika hampir seluruh bintang tersebut berkumpul pada posisi tertentu, ia memilih untuk sendiri. Entahlah, ia tak ingat bagaimana kelahirannya. Ia tak ingat, apakah ia yang memilih untuk sendiri, atau sebaliknya ia memang terlahir untuk sendiri.                 Tak selamanya ia sendiri. Siklus rotasi yang dijalaninya di angkasa luas sesekali membuatnya berjumpa dengan beberapa rekan. Beberapa rekan membuatnya merasa berkelompok ternyata mengasyikan. Beberapa rekan justru membuatnya merasa sendiri adalah hal yang terindah yang dianugerahkan semesta kepadanya.                           ...

Ragu

Ia menutup bukunya. Terdengar suara ‘buk’ kecil yang ditimbulkan, memecahkan keheningan ruangan di lantai dua tersebut. Di ruangan ini, semua cerita tentang kehidupannya tersimpan rapi. Sangat rapi. Entah dalam bentuk coretan di atas buku harian, berbagai file Microsoft Word , dan berbagai foto yang disimpan rapi dalam album. Tak ada yang tahu. Semuanya disimpan dengan penuh keamanan. Buku harian serta album foto disimpan dalam sebuah kotak cokelat yang nampak usang. File Microsoft Word diamankan dengan kunci rahasia yang hanya diketahuinya.                 Ya, ia sangat ahli dalam menyembunyikan rahasia tentang kehidupannya. Tak ada seorang teman pun yang tahu versi lengkap kehidupannya. Terutama, topik yang krusial – kisah cintanya . Ia tak terlalu suka membicarakan hal ini di banyak orang. Menurutnya, cukup dirinya dan alam semesta yang tahu. Hanya alam semesta yang mampu merasakan segala rasa yang dia...

Retrouvailles

Gambar
BUK! Sebuah novel yang cukup tebal terjatuh dari rak penyimpanannya. Gadis itu sedikit menggerutu kesal.   Lagi-lagi, karena ia terburu-buru mencari novel yang dijadikannya sebagai sumber ide proyek terbarunya, ada novel lain yang tak ia cari justru terjatuh. Beruntung, tak jatuh mengenai kepalanya. Ponsel yang tadi digenggam pada tangan kirinya, kini ia letakkan di atas kasur yang berada di sebelah raknya persis. Seolah ada batu yang dilemparkan tepat ke dadanya, itulah yang ia rasakan ketika ia melihat apa yang ia temukan pada novel yang terbuka di atas lantai tersebut. Sebuah pembatas buku , mungkin dengan demikian dapat dinamai. Namun, sebenarnya, benda berbentuk persegi panjang tersebut adalah sebuah foto. Ya, sebuah foto. Foto yang menyimpan kenangan yang sangat ia rindukan. Gadis itu meraih foto beserta novel tersebut. Terdiam beberapa saat melihat foto tersebut, sambil mengusapnya perlahan. Di mana dia sekarang? Apakah dia masih mengingatku, atau sudah sukses me...