Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerita Nyata

Oasis

Kata bisa saja meramu kisah yang indah. Namun, tanpa semesta, rasa takkan bertemu pada satu waktu yang sama. Tidak ada alasan untuk tidak merasa kesal siang ini. Dalam waktu kurang dari lima menit, terik mentari tergantikan awan mendung yang amat pekat, lengkap dengan hujan amat deras dan angin kencang. Sial, gerutunya dalam hati. Untuk kesekian kalinya, payungnya tertinggal di ruang kerjanya. Rencana pulang cepat dan memulihkan lelah, sirna sudah. Bersama dengan puluhan orang lainnya, dia terjebak di satu perhentian yang sama. Semakin lama, hujan turun semakin deras. Kulitnya mulai dibasahi air hujan, rambutnya pun dikacaukan oleh angin. Berbalut pakaian dengan kain tipis, dingin pun mulai merasuki tubuhnya. Belum lagi, berkas pekerjaan dan laptop di dalam tas yang harus mendapat perlindungan ekstra agar tidak basah. Sempurna. Kekacauan yang sempurna untuk sore ini. "Anna? Terjebak hujan juga?" "Oh, Dave?" Dengan hati yang sangat kacau, Anna memaksaka...

Surya dan Mentari

Andai, cerita kita seperti Surya dan Mentari. Rupanya, hari ini hari ke tiga puluh. Tepat tiga puluh coretan merah kecil-kecil juga melintang pada kalender kecil yang bertengger di atas mejaku. Tepat tiga puluh hari, tirai biru tua menghalangi sentuhan alam menembus kamarku. Tepat empat minggu, aku terbenam dalam duniaku. Kalau bukan karena burung kecil yang mendadak hinggap mengetuk-ngetuk kaca jendelaku, aku belum mau bersentuhan dengan alam. Ruang kamar seluas lima meter persegi ini sudah cukup menjadi duniaku, menjadi semestaku. Balut selimut sudah cukup menenangkanku. Sekali lagi, kutarik selimut hingga menutup seluruh tubuhku. Kubungkam telinga dengan bantal, berharap sunyi segera menguasaiku. Sial, burung kecil terus mengetuk-ngetuk kaca jendelaku. Langit terhampar sangat luas untuk dilewatinya, kenapa mesti mengganggu siangku? "Akhirnya, kamar ini disiram sinar matahari." Seorang perempuan dengan rambut pendek sebahu memasuki teritoriku. Secara tida...

Keping Emosi

Yang keempat. --- Senja kembali menjemput dengan cepat. Sepertinya, matahari sudah tak sanggup lagi menahan rindu kepada horizon yang menantinya pulang. Sudah saatnya matahari untuk beristirahat, Tumpukan berkas masih menggunung di atas meja Elena, mengapit laptop yang sudah menyala lebih dari delapan jam lamanya. Dekorasi yang menghias meja kantor pun juga tertimbun di lautan berkas. Jemari Elena yang memukul-mukul tombol keyboard terdengar dengan volume yang keras dan cepat, memecah keheningan. Sebagian besar karyawan memilih untuk pulang sebelum jam kemacetan memuncak. "Proyek Mr. Primus?" tanya seseorang. "Ah, ya, benar sekali," jawab Elena. "Akhirnya, pertanyaan saya dijawab." "Maksudmu?" "Saya bertanya sebanyak lima kali, dan pertanyaan kelima yang kaujawab," ucapnya. "Apakah masih ada yang bisa kulakukan? Sepertinya hari semakin malam dan Anda masih sangat sibuk dengan pekerjaan. Sebagai rekan satu tim, say...

Di Balik Cerita Manis Itu - Part 2

Gambar
Inilah cerita babak final yang tak kalah epic. “Tuhan akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja.” Keluaran 14:14   Senin, 26 Maret 2018 menjadi tanggal yang cukup dinanti bagi kami. Setelah seharian sibuk mempersiapkan kejutan ulang tahun bagi sahabat kami, Sarah, malamnya kami diliputi kegelisahan. Seharusnya, pengumuman finalis sudah diluncurkan tepat pukul 19.00. Namun, pengumuman baru diluncurkan sekitar dua jam setelahnya. Betapa terkejutnya kami, ketika kami terpilih sebagai salah satu finalis. Hari-hari selanjutnya diliputi kegelisahan sembari menanti brief untuk babak final. Setelah menerima brief, kami pun diliputi kegelisahan yang makin ekstrim. Terdapat shocking project yang harus kami garap di hari final. Betapa paniknya kami, berusaha menebak-nebak apa yang harus kami lakukan. Maklum, inilah pertama kalinya kami mengikuti lomba semasa kami berkuliah. Singkat cerita, kami melakukan berbagai persiapan. Kamis, 5 April 2018. Sesuai rundown,...

Di Balik Cerita Manis Itu - Part 1

Gambar
Inilah cerita babak penyisihan yang epic bagi kami. “Tuhan akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja.” (Keluaran 14:14) Salah satu adegan dalam video advertising kami. Hatiku tergerak untuk menceritakan apa yang baru saja terjadi sebulan belakangan. Sebuah pengalaman di tengah kesibukan yang menjadi pelajaran amat berharga bagiku, secara personal (dan semoga bagi para pembaca). Kamis, 1 Maret 2018. Dalam sebuah mata kuliah, yang masih membahas mengenai materi, tiba-tiba di hari itu membahas tentang lomba. Sepanjang kelas yang berdurasi 150 menit hari itu, diisi dengan aktivitas brainstorming ide yang melelahkan. Bagaimana susahnya mendapatkan ide, dan ketika menemukan ide rupanya ide tersebut terlalu mainstream. Terus mengocok isi kepala dengan ide-ide baru sembari berusaha memahami brief (penjelasan lomba) yang cukup panjang. Biar kuceritakan sedikit isi brief tersebut agar mudah mengikuti runtutan ceritaku ini. Jadi, dalam brief tersebut,...