Postingan

Menampilkan postingan dengan label Inspirative

The Vessel [2]

Back to  The Vessel [1]       Tak hanya tugas, berlanjut pada kegiatan organisasi. Aku tak pernah mengira tanggung jawab yang kudapatkan sedemikian besarnya. Saran dan kritik sudah menjadi makanan sehari-hari yang harus ditelan dengan nikmat. Kemampuan berkomunikasi dan memanajemen menjadi hal yang wajib kumiliki. Kemampuan mendekatkan diri dan menjalin relasi dengan rekan-rekan satu tim juga harus kuterapkan. Dengan kepribadian yang ceria dan cukup mudah mengalah, tak mudah bagiku untuk dapat menguasai puluhan mulut yang menyuarakan ide-ide cemerlang (karena aku sendiri juga banyak bicara). Belum lagi, ketika ada masalah menghadang dan sisi melankoli muncul. Rasanya ingin segera angkat kaki saja menuju dimensi waktu yang lain.       Menjadi asisten tutorial juga bukan pekerjaan yang mudah. Setahun lalu, ketika aku hanyalah seorang peserta, aku melihat asisten tutorial bukanlah pekerjaan yang susah. Cukup membaca materi yang ada...

The Vessel [1]

Mengiring-Mu, seumur hidupku Masuk dalam rencana-Mu, Bapa Pikiranku, kehendakku, kuserahkan pada-Mu Harapanku hanya di dalam-Mu Kukan teguh bersama-Mu Tuhan Jadikanku, bejana-Mu untuk memuliakan-Mu        Lagu dengan tempo slow ini menohokku dengan keras semalam. Lagu yang membuatku menangis dan tenggelam dalam lirik serta iramanya, setelah sekian lama tak merasakan demikian. Entahlah, seolah Tuhan berbicara padaku semalam lewat lagu ini. Akan kuceritakan sedikit kisahnya.          Semua berawal ketika aku menginjak tahun kedua studi di perguruan tinggi ini. Dengan penuh kebanggaan, kuambil jumlah SKS yang lebih banyak dari sebelumnya. Kuterima tawaran jabatan yang prestisius di organisasi. Tak tanggung-tanggung, pada semester sebelumnya aku memutuskan untuk menjadi seorang asisten tutorial pula. Belum lagi, bagaimana relasiku dengan orang-orang di sekitarku. Bukanlah hal yang mudah untuk dilalui, demikian kata...

Menapak Realita [2]

Dengan tegas kusampaikan pendapatku bahwa yang paling bertanggung jawab atas penjebakan diri kita sendiri pada rutinitas adalah diri kita sendiri. Ya, DIRI KITA SENDIRI. Bagiku, rutinitas bukanlah suatu hal yang dapat disalahkan sebagai suatu yang memerangkap kita. Sebaliknya, kita sendirilah yang tanpa kita sadari memerangkap diri dalam rutinitas. Dan, parahnya, kita memerangkap diri kita dalam rutinitas yang tidak membangun masa depan.   Bagiku, kita tidak dapat munafik dengan berkata kita bisa hidup dalam rutinitas. Bangun pagi, menggosok gigi, kemudian mandi adalah bentuk kecil dari rutinitas. Jadi, hiduplah dalam rutinitas yang dapat membangun masa depan. Rutinitas yang baik akan membentuk pondasi yang baik bagi berdirinya bangunan masa depan kita. Dengan kata lain, melalui rutinitas tersebut kita akan berpindah dari satu titik ke titik lainnya secara vertikal. Sebaliknya, rutinitas yang ‘biasa’ akan membawa kita hanya bergeser dari satu titik ke titik lainnya secara horiz...

Menapak Realita [1]

Muda, kuat, dan bebas. Itulah yang kurasakan saat ini. Berjiwa muda dengan sejuta mimpi yang ingin diraih, tubuh jasmani yang masih mampu melakukan berbagai hal sendiri, serta bebas melakukan apa saja yang kuingin lakukan tanpa ada batasan. Namun, akhir-akhir ini aku menyadari satu hal: benarkah jenis kehidupan ini yang sedang kujalani bersama rekan sebaya? Jika dilihat saat ini, ya, memang itulah kehidupan yang sedang kujalani. Seolah tidak ada halangan yang merintang keinginanku, selama keinginan tersebut adalah suatu hal yang baik. Tak lupa, harus menjalani rutinitas sehari-hari. Sebagai seorang mahasiswa yang memiliki kesempatan belajar yang luar biasa di antara 2% penduduk Indonesia yang mampu berkuliah, tentu aku sangat bangga menjalani ‘rutinitas’ tersebut. Dengan berbagai kebutuhan yang serba terpenuhi, aku dapat berfokus menempuh studiku.