Postingan

Langit Senja

Awan stratus menggantung membentuk mata, hidung, dan mulut sosok manusia -- entah perempuan atau laki-laki. Semburat oranye menjadi dasar awan stratus menggantung, sekaligus warna wajah sosok manusia itu. Titik matahari yang dalam perjalanan kembali ke peraduannya, seolah menjadi ornamen yang mempercantik sosok manusia itu. Tiupan tata surya hari ini menciptakan bentuk lengkung pada awan stratus. Secara kebetulan, terciptalah senyuman tipis pada awan stratus. Entah mengapa, aku merasa derajat lengkungnya sama persis dengan derajat lengkung yang terbentuk pada senyumku. Waktu semakin senja, langit oranye menjadi semakin gelap. Gemerisik rumput di sekitarku menjadi kawan yang setia sejak 43 menit belakangan. Ya, aku mengitung menit demi menit yang berjalan. Setidaknya, kesendirian hari ini mengajarkanku untuk konsentrasi dan fokus menghitung waktu. Matahari berada pada kemiringan 20 derajat dari horizon. Sinarnya terpantul pada lingkaran bewarna silver yang mengikat jariku. ...

Abu Kelabu

Langit kembali menjadi kelabu -- suasana yang begitu sempurna untukku. Ketika sebagian besar orang segera mencari suaka untuk berlindung ketika langit menjadi kian abu-abu, tidak denganku. Langit kelabu seakan mengandung medan magnetik yang menarikku bercengkerama dengannya. Tiupan angin dengan segala benda yang diliputi embun menjadi daya tarik tersendiri bagiku. "Chu?" Panggil ibuku.  Sepertinya, upayaku untuk kabur di tengah cuaca yang tidak menentu ini terdeteksi ibuku. Semoga dia mengizinkan, semoga dia mengizinkan... "Um, ya, Mom?"  "Mau ke mana lagi? Chumani, ingat pesan ayahmu untuk menjaga diri, 'kan?" "Lengket sekali di otakku, Mom. Jangan khawatir. Aku hanya butuh waktu sejenak di luar," aku menelan ludah. "Aku janji, sebelum hujan turun aku akan segera pulang." "Hm, jangan kau ingkari lagi ucapanmu itu," kata Mom terdengar semakin pelan. Jelas saja, aku melangkah semakin jauh dari dirinya....

[BOOK REVIEW] Presiden Gus Dur The Untold Stories

Gambar
Sumber: Goodreads Presiden Gus Dur The Untold Stories: Kiai di Istana Rakyat Judul Buku: Presiden Gus Dur The Untold Stories: Kiai di Istana Rakyat Penulis: Priyo Sambadha Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia Jakarta Tahun terbit: 2014 (cetakan pertama) Tebal: 156 halaman Rasanya, tak ada seorangpun yang tak kenal sosok presiden keempat Republik Indonesia ini. Mulai dari masyarakat yang ' njamani'   era kepemimpinannya, hingga generasi 'zaman now' yang mungkin mengetahui Gus Dur karena dipaksa menghafalkan sejarah bangsa. Apalagi, sampai saat ini ungkapan khasnya " Gitu aja kok repot ? " masih sering diucapkan berbagai kalangan. Di sini, kisah Gus Dur ditulis dengan perspektif pribadi Priyo Sambadha, seorang anggota staf kepresidenan. Ketika Gus Dur menjabat, Priyo telah mengabdi di lingkungan istana 14 tahun lamanya. Jadi, sedikit-banyak Priyo membandingkan bagaimana keseharian Gus Dur dengan presiden-presiden sebelum Gus...

Puzzle

Meski bersatu, garis pemisahnya tetap ada.  * Setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, hingga setiap tahun aku berjuang mencari tahu makna di antara perjumpaan. Bahkan, tak jarang aku mencari tahu lewat hal-hal tak terduga. Misalnya, mengamati pergerakan ikan koi di kolam belakang rumahku, atau ikut klub mendaki gunung. Semua kulakukan, demi mendapatan jawabannya. Bagiku, sebuah perjumpaan adalah hal yang menarik. Kadang membuahkan hal yang manis, kadang membuahkan hal yang pahit, kadang juga asam. Kita tidak bisa menebaknya. Hanya waktu yang akan mengungkap jawab di balik misteri perjumpaan. Aku mengenalnya secara tidak sengaja, beberapa tahun yang lalu. Perawakannya tinggi, wajahnya cukup tampan di bandingkan kawan-kawannya yang lain. Setidaknya, waktu itu dia selalu memamerkan senyum manisnya kepada setiap pasang mata yang tertuju padanya dan karyanya.  Secara tidak sengaja, gaya gravitasi menarik mataku dan matany...

Kesempatan

Kalau hidup adalah sebuah kesempatan, lantas apa yang akan kau lakukan? * Sepanjang hidupku, aku tidak pernah melewatkan satupun kesempatan. Ya, sekecil apapun kesempatan itu, seberat apapun tantangan yang menanti dari kesempatan itu, aku akan mengambilnya. Di dalam benakku, sebuah hadiah yang menanti adalah hal yang jauh lebih berharga dibandingkan dengan resiko yang mungkin saja mengikuti. Sebagai penyuka tantangan, aku pernah pula mengambil sebuah kesempatan yang hampir merenggut nyawaku. Empat tahun lalu, aku memberanikan diriku untuk bergabung dengan klub pencinta alam. Dalam waktu singkat, aku memutuskan untuk ikut  hiking. Saat itulah, alam hampir membawaku berpulang kepada Sang Pencipta.  Di lain peristiwa, mobil yang kukendarai hampir terlindas kereta api. Entah bagaimana, sirene penanda kereta akan lewat seakan tidak berbunyi saat itu. Sialnya, perlintasan tersebut tidak dilengkapi dengan palang pintu. Mungkin, sejak lahir aku memang ditakdirkan u...

Mentari [2]

Menaklukkan hati perempuan bukanlah kemampuanku yang patut dibanggakan. Sekitar sepuluh tahun lalu, aku mencoba mendekati seorang perempuan sebangkuku. Parasnya cantik dan dia menolakku mentah-mentah diiringi cemooh. Lalu, sekitar tujuh tahun lalu, aku kembali meneguhkan hatiku untuk mendekati perempuan lain. Belum sempat menyatakan perasaan, gadis itu telah menerima cinta dari seorang teman sekelasku. Mentari masih di sana, dan aku masih tetap memandangnya dari kejauhan. Hari ini, dia menyeka matanya, entah apa sebabnya. Gelora angin mendorongku melangkah mendekatinya. Tak dapat kuelak, jantungku berdegup demikian cepat. Lebih cepat daripada ketika aku maraton. Maklum, tujuh tahun lamanya hati ini tidak dihinggapi percikan asmara. Satu langkah demi satu langkah membawa ragaku mendekat pada raga Mentari. Sedikit lagi, ya, sedikit lagi. Lima langkah lagi dan aku dapat menyentuh pundak Mentari dengan lembut, mengajaknya berbincang dan menemani malamnya yang kian kelam ini -- "...

Mentari [1]

Kalau mentari bisa tersenyum, pun dia bisa. Kalau mentari bisa menghangatkan bumi, pun dia bisa menghangatkan hariku. Kalau mentari adalah pusat tata surya kita, pun dia adalah pusat dari seluruh perhatianku. Dia adalah Mentari, seorang gadis yang meraih hampir seluruh sukmaku. Beruntung dia tidak meraih seluruh sukmaku, bisa mati aku. Wajahnya bersinar setiap saat. Tak peduli subuh, pagi, siang, sore, bahkan malam, dia akan menyapamu ramah dengan senyum yang mengembang. Senyumnya tercipta oleh lengkung pada bibirnya dan mata indahnya. Kemurahan hatinya kian menyempurnakan makhluk ciptaan Tuhan yang satu ini. Ada beberapa pria dengan keberaniannya secara terang-terangan mendekati Mentari. Katanya, mereka tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Ada yang rajin menjadi penyedia konsumsi, ada yang rajin memberikan kado-kado, bahkan ada yang rela menjadi sopir pribadi Mentari. Namun, dari sirat mata Mentari, dapat kupastikan usaha mereka sia-sia.  Selama ini aku hanya dapat mel...

Di Balik Cerita Manis Itu - Part 2

Gambar
Inilah cerita babak final yang tak kalah epic. “Tuhan akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja.” Keluaran 14:14   Senin, 26 Maret 2018 menjadi tanggal yang cukup dinanti bagi kami. Setelah seharian sibuk mempersiapkan kejutan ulang tahun bagi sahabat kami, Sarah, malamnya kami diliputi kegelisahan. Seharusnya, pengumuman finalis sudah diluncurkan tepat pukul 19.00. Namun, pengumuman baru diluncurkan sekitar dua jam setelahnya. Betapa terkejutnya kami, ketika kami terpilih sebagai salah satu finalis. Hari-hari selanjutnya diliputi kegelisahan sembari menanti brief untuk babak final. Setelah menerima brief, kami pun diliputi kegelisahan yang makin ekstrim. Terdapat shocking project yang harus kami garap di hari final. Betapa paniknya kami, berusaha menebak-nebak apa yang harus kami lakukan. Maklum, inilah pertama kalinya kami mengikuti lomba semasa kami berkuliah. Singkat cerita, kami melakukan berbagai persiapan. Kamis, 5 April 2018. Sesuai rundown,...

Di Balik Cerita Manis Itu - Part 1

Gambar
Inilah cerita babak penyisihan yang epic bagi kami. “Tuhan akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja.” (Keluaran 14:14) Salah satu adegan dalam video advertising kami. Hatiku tergerak untuk menceritakan apa yang baru saja terjadi sebulan belakangan. Sebuah pengalaman di tengah kesibukan yang menjadi pelajaran amat berharga bagiku, secara personal (dan semoga bagi para pembaca). Kamis, 1 Maret 2018. Dalam sebuah mata kuliah, yang masih membahas mengenai materi, tiba-tiba di hari itu membahas tentang lomba. Sepanjang kelas yang berdurasi 150 menit hari itu, diisi dengan aktivitas brainstorming ide yang melelahkan. Bagaimana susahnya mendapatkan ide, dan ketika menemukan ide rupanya ide tersebut terlalu mainstream. Terus mengocok isi kepala dengan ide-ide baru sembari berusaha memahami brief (penjelasan lomba) yang cukup panjang. Biar kuceritakan sedikit isi brief tersebut agar mudah mengikuti runtutan ceritaku ini. Jadi, dalam brief tersebut,...

Hujan Bulan Desember

Aku tahu hujan, yang secara misterius membawa aroma menggoda. Aku suka hujan, yang menggelitik sanubariku dengan milyaran rasa. Aku cinta hujan, yang mempertemukan kau dan aku di bawah payung yang satu.        Ku tak lari lagi dari hujan.        Ku tak lari lagi menghindar,          kabur, ataupun menjauh.        Ku rasakan tetes air hujan,        mengaliri setiap inci kulitku,        membawa sensasi yang tak dapat dijelaskan. Payung malam itu, ‘kan jadi kenangan indah, bukti awal dari segala awal. Tak hanya mengurangi percikan air hujan yang dingin, tapi pula meneduhkan hati. Mungkin, masih tersisa bekas tanganku dan tanganmu, yang memegang gagang yang satu.           Angin semilir menggelitik,    menamba...

The Vessel [2]

Back to  The Vessel [1]       Tak hanya tugas, berlanjut pada kegiatan organisasi. Aku tak pernah mengira tanggung jawab yang kudapatkan sedemikian besarnya. Saran dan kritik sudah menjadi makanan sehari-hari yang harus ditelan dengan nikmat. Kemampuan berkomunikasi dan memanajemen menjadi hal yang wajib kumiliki. Kemampuan mendekatkan diri dan menjalin relasi dengan rekan-rekan satu tim juga harus kuterapkan. Dengan kepribadian yang ceria dan cukup mudah mengalah, tak mudah bagiku untuk dapat menguasai puluhan mulut yang menyuarakan ide-ide cemerlang (karena aku sendiri juga banyak bicara). Belum lagi, ketika ada masalah menghadang dan sisi melankoli muncul. Rasanya ingin segera angkat kaki saja menuju dimensi waktu yang lain.       Menjadi asisten tutorial juga bukan pekerjaan yang mudah. Setahun lalu, ketika aku hanyalah seorang peserta, aku melihat asisten tutorial bukanlah pekerjaan yang susah. Cukup membaca materi yang ada...

The Vessel [1]

Mengiring-Mu, seumur hidupku Masuk dalam rencana-Mu, Bapa Pikiranku, kehendakku, kuserahkan pada-Mu Harapanku hanya di dalam-Mu Kukan teguh bersama-Mu Tuhan Jadikanku, bejana-Mu untuk memuliakan-Mu        Lagu dengan tempo slow ini menohokku dengan keras semalam. Lagu yang membuatku menangis dan tenggelam dalam lirik serta iramanya, setelah sekian lama tak merasakan demikian. Entahlah, seolah Tuhan berbicara padaku semalam lewat lagu ini. Akan kuceritakan sedikit kisahnya.          Semua berawal ketika aku menginjak tahun kedua studi di perguruan tinggi ini. Dengan penuh kebanggaan, kuambil jumlah SKS yang lebih banyak dari sebelumnya. Kuterima tawaran jabatan yang prestisius di organisasi. Tak tanggung-tanggung, pada semester sebelumnya aku memutuskan untuk menjadi seorang asisten tutorial pula. Belum lagi, bagaimana relasiku dengan orang-orang di sekitarku. Bukanlah hal yang mudah untuk dilalui, demikian kata...

Behind Us.

“Kapan kau akan menulis lagi?” “Entahlah. Inspirasi dan ideku menguap begitu cepat.” “Cepatlah menulis. Aku rindu untuk membacanya.” “Iya, setelah aku menemukan ide.” “Kutunggu. Secepatnya.”                 Aku sedikit teringat percakapan singkat itu. Percakapan yang membuat diriku amat bahagia, ketika sadar tulisan seorang amatir ternyata dinanti-nantikan. Setidaknya, untuk seorang – seorang spesial. Apalagi, yang menantikannya tak begitu suka membaca. Pernahkah kau merasa cukup kaget ketika seorang yang bahkan tidak suka bergaul dengan tulisan-tulisan, tiba-tiba mengharapkanmu menulis kisah panjang untuknya? Bagiku, sebuah perasaan yang tak dapat diungkapkan dengan cara apapun. Amat sangat bahagia.                 Kalori untuk menulis baru saja ia salurkan padaku semalam. Sebuah malam yang baru saja berlalu begitu cepat, t...

Bahagia

Bahagia, Sebuah kata yang berlalu-lalang Sebuah frasa yang acap berulang Seolah menjadi sebuah tujuan akhir yang gemilang. Bahagia, Seperti apakah itu? Apa gelak tawa riang tanpa setetes pun air mata? Apa hari indah dengan sinar matahari yang menghangatkan? Apa harta yang berkelimpahan? Bahagia, Entah, sebuah kata, empat suku kata Suatu yang selalu digenta Suatu yang selalu dipinta Suatu yang selalu berusaha dicipta Bahagia, Kapan akan ditampilkan? Siapa yang akan mewujudkan? Di mana ku akan dapatkan? Bahagia, Tak bisa didefinisikan Tak ada seorang pun dapat mempatenkan Apa itu bahagia yang sejati Bahagia, Itu sederhana Memupuk sejuta makna Melahirkan milyaran tresna Bahagia, Dalam satu kedipan mata Cukup, tak perlu lagi meminta Ketika tiada dusta Ketika kau dicinta Ketika kau jadi pelita Bahagia, Sesederhana itu

Aura

Gadis itu berdiri dengan tegap menghadap Sang Surya yang hendak beristirahat. Semburat langit oranye kekuningan menjadi latar belakang yang sempura baginya. Rambutnya yang warna coklat tampak keemasan dengan siraman sinar sore. Dari belakang pun tampak jelas, bahwa sekujur tubuh gadis itu kaku.                 Tak ada senyum yang menghiasi wajahnya. Bibirnya terkatup rapat dengan tegang. Tatapan matanya   sangat jauh, entah melayang ke mana. Kedua telapak tangannya tergenggam dengan kuat di samping tubuhnya. Ia tak berusaha untuk mengatasi angin yang terus meniupi dirinya, mengacaukan rambutnya, mengibarkan ujung-ujung pakaiannya. Ia biarkan dirinya dimiliki oleh alam untuk saat itu.                 Hatinya rapuh sudah. Hanya satu sentuhan saja, hancurlah jadi berkeping-keping. Ia tak peduli lagi. Biarlah hatinya hancur, yan...

Meringkuk

Pekatnya awan malam memudarkan sinar Sang Dewi. Kecantikannya tertutup, semakin lama semakin lenyap dari angkasa. Padahal, seharusnya malam ini ia dapat memancarkan kecantikannya pada seluruh penjuru semesta. Seharusnya, semua mata tertuju padanya, terkagum akan pesonanya, dan membuat suasana begitu manis bagi setiap orang tanpa terkecuali. Seharusnya.                 Malam ini, angin bertiup cukup kencang, mendorong ranting-ranting bergesekan satu sama lain dan daun-daun melambai-lambai menyambut malam yang kian pekat. Udara menembus masuk dalam kamarku, memicuku untuk menarik selimut semakin tinggi. Mala mini seolah menjadi malam yang sangat sempurna untukku. Seluruh jagat raya dan semesta mendukungku. Mendukungku untuk meringkuk seperti bayi yang baru lahir dan meratapi diriku saat ini.                 Kalau boleh kembali ke masa la...

Cahaya di Penjuru Hati: Sebuah kisah yang menyihir setiap insan pembaca

Gambar
Sebuah kisah hidup yang penuh liku disajikan dengan sangat apik oleh penulis favorit saya, Alberthiene Endah. Bagi sebagian orang, mungkin kisah hidup alias biografi tergolong membosankan, karena alurnya yang begitu-begitu saja tanpa ada bumbu-bumbu fantasi di dalamnya. Bagi mereka penikmat biografi, tentu, biografi menyajikan kekhasannya sendiri yang membedakannya dengan jenis buku lainnya. Namun, kali ini, saya kira kisah pemilik Andi Publisher mampu menyihir setiap pembacanya dalam dunianya, tanpa terkecuali. Alurnya sangat menarik                 Pada setiap babnya, kisah diawali dengan kondisi pada tahun 2014, di mana J.H. Gondowijoyo berada pada titik kritis hidupnya untuk kesekian kali. Belahan jiwanya, jantung hatinya, bidadarinya, Liliawati Gondowijoyo tertidur selama beberapa waktu lamanya dalam ruang ICU. Namanya saja belahan jiwa, J.H. Gondowijoyo dikisahkan sungguh amat sedih dengan ko...