Postingan

Bintang

Sendiri lebih baik, pikirnya                 Di antara jutaan bintang dalam satu gugusnya, ia memang lain dari yang lain. Ketika hampir seluruh bintang tersebut berkumpul pada posisi tertentu, ia memilih untuk sendiri. Entahlah, ia tak ingat bagaimana kelahirannya. Ia tak ingat, apakah ia yang memilih untuk sendiri, atau sebaliknya ia memang terlahir untuk sendiri.                 Tak selamanya ia sendiri. Siklus rotasi yang dijalaninya di angkasa luas sesekali membuatnya berjumpa dengan beberapa rekan. Beberapa rekan membuatnya merasa berkelompok ternyata mengasyikan. Beberapa rekan justru membuatnya merasa sendiri adalah hal yang terindah yang dianugerahkan semesta kepadanya.                           ...

Kilat di Ujung

Sebuah tatapan terarah padaku dengan begitu tajam. Aku mengenal tatapan itu, bisik hatiku. Pemilik tatapan itu – seorang pemuda – masih berdiri di ujung jalan. Perawakannya tinggi besar, dengan rambut gaya terkini – entah aku tak tahu apa nama jenis rambut tersebut – dan pakaiannya juga menunjukkan bahwa kini ia bertumbuh kian dewasa dengan pakaiannya yang tampak formal. Lepas dari semuanya, ada suatu hal yang membuatku tak asing – tatapannya. Sebuah tatapan yang membawaku bernostalgia pada kejadian tujuh tahun lalu. ***                 “Iya, kamu!” bentak seorang kakak kelas. Wajahnya begitu garang, membuatku ketakutan. Merasa tak dipanggil, aku menoleh ke sisi kanan dan kiriku, mencari-cari siapakah yang dimaksudkan oleh kakak senior ini.                 “Hei, kamu! Yang lagi nolah-noleh itu!” Astaga, benarkah diriku yan...

Menapak Realita [2]

Dengan tegas kusampaikan pendapatku bahwa yang paling bertanggung jawab atas penjebakan diri kita sendiri pada rutinitas adalah diri kita sendiri. Ya, DIRI KITA SENDIRI. Bagiku, rutinitas bukanlah suatu hal yang dapat disalahkan sebagai suatu yang memerangkap kita. Sebaliknya, kita sendirilah yang tanpa kita sadari memerangkap diri dalam rutinitas. Dan, parahnya, kita memerangkap diri kita dalam rutinitas yang tidak membangun masa depan.   Bagiku, kita tidak dapat munafik dengan berkata kita bisa hidup dalam rutinitas. Bangun pagi, menggosok gigi, kemudian mandi adalah bentuk kecil dari rutinitas. Jadi, hiduplah dalam rutinitas yang dapat membangun masa depan. Rutinitas yang baik akan membentuk pondasi yang baik bagi berdirinya bangunan masa depan kita. Dengan kata lain, melalui rutinitas tersebut kita akan berpindah dari satu titik ke titik lainnya secara vertikal. Sebaliknya, rutinitas yang ‘biasa’ akan membawa kita hanya bergeser dari satu titik ke titik lainnya secara horiz...

Menapak Realita [1]

Muda, kuat, dan bebas. Itulah yang kurasakan saat ini. Berjiwa muda dengan sejuta mimpi yang ingin diraih, tubuh jasmani yang masih mampu melakukan berbagai hal sendiri, serta bebas melakukan apa saja yang kuingin lakukan tanpa ada batasan. Namun, akhir-akhir ini aku menyadari satu hal: benarkah jenis kehidupan ini yang sedang kujalani bersama rekan sebaya? Jika dilihat saat ini, ya, memang itulah kehidupan yang sedang kujalani. Seolah tidak ada halangan yang merintang keinginanku, selama keinginan tersebut adalah suatu hal yang baik. Tak lupa, harus menjalani rutinitas sehari-hari. Sebagai seorang mahasiswa yang memiliki kesempatan belajar yang luar biasa di antara 2% penduduk Indonesia yang mampu berkuliah, tentu aku sangat bangga menjalani ‘rutinitas’ tersebut. Dengan berbagai kebutuhan yang serba terpenuhi, aku dapat berfokus menempuh studiku.

Hampa

Kenapa kehampaan ini lagi-lagi menyerbu relung hatinya?             Otaknya berpikir keras seminggu terakhir. Tak ada karya yang mampu dihasilkannya, entah tulisan ataupun potret foto. Baginya, menulis adalah separuh napasnya. Seminggu ini ia tak menulis – berarti ia sudah kehilangan napasnya seminggu terakhir. Baginya, memotret adalah tatapan matanya. Seminggu ini ia tak memotret – berarti sepekan sudah ia menutup matanya rapat-rapat.             Banyak pekerjaan yang menanti untuk diselesaikan. Namun, hingga kini, tak ada satupun pekerjaan yang mampu ia selesaikan. Lelah. Hanya itu yang dirasakannya. Seolah, ada beban ribuan ton yang menimpa pundaknya, dan ia tak mampu menahan beban itu lagi. Sungguh, ia terlampau lelah untuk memikirkan apa yang sedang terjadi pada dirinya saat ini.

Ilusi

Di sinilah aku saat ini. Entah sudah berapa banyak waktu yang kubuang, untuk terjebak dalam lamunan berkepanjangan yang tiada akhir. Seolah sudah seabad lamanya aku menikmati ‘hidangan nikmat’ yang disajikan dunia ini. Begitu manis, dan sedap rasanya. Dunia begitu baik hingga menyediakannya untuk diriku, dan hanya untuk diriku seorang.                 Dunia sedang berpihak kepadaku. Ia terus menuangkan kisah-kisah bahagia yang layak untuk memberikan kesenangan tersendiri di hari-hariku yang suntuk ini. Sungguh, dunia membuatku jatuh cinta pada dirinya yang begitu baik padaku, akhirnya. Walau, terkadang ia harus meneteskan rasa pahit agar hidupku lebih proporsional.

Ragu

Ia menutup bukunya. Terdengar suara ‘buk’ kecil yang ditimbulkan, memecahkan keheningan ruangan di lantai dua tersebut. Di ruangan ini, semua cerita tentang kehidupannya tersimpan rapi. Sangat rapi. Entah dalam bentuk coretan di atas buku harian, berbagai file Microsoft Word , dan berbagai foto yang disimpan rapi dalam album. Tak ada yang tahu. Semuanya disimpan dengan penuh keamanan. Buku harian serta album foto disimpan dalam sebuah kotak cokelat yang nampak usang. File Microsoft Word diamankan dengan kunci rahasia yang hanya diketahuinya.                 Ya, ia sangat ahli dalam menyembunyikan rahasia tentang kehidupannya. Tak ada seorang teman pun yang tahu versi lengkap kehidupannya. Terutama, topik yang krusial – kisah cintanya . Ia tak terlalu suka membicarakan hal ini di banyak orang. Menurutnya, cukup dirinya dan alam semesta yang tahu. Hanya alam semesta yang mampu merasakan segala rasa yang dia...

Retrouvailles

Gambar
BUK! Sebuah novel yang cukup tebal terjatuh dari rak penyimpanannya. Gadis itu sedikit menggerutu kesal.   Lagi-lagi, karena ia terburu-buru mencari novel yang dijadikannya sebagai sumber ide proyek terbarunya, ada novel lain yang tak ia cari justru terjatuh. Beruntung, tak jatuh mengenai kepalanya. Ponsel yang tadi digenggam pada tangan kirinya, kini ia letakkan di atas kasur yang berada di sebelah raknya persis. Seolah ada batu yang dilemparkan tepat ke dadanya, itulah yang ia rasakan ketika ia melihat apa yang ia temukan pada novel yang terbuka di atas lantai tersebut. Sebuah pembatas buku , mungkin dengan demikian dapat dinamai. Namun, sebenarnya, benda berbentuk persegi panjang tersebut adalah sebuah foto. Ya, sebuah foto. Foto yang menyimpan kenangan yang sangat ia rindukan. Gadis itu meraih foto beserta novel tersebut. Terdiam beberapa saat melihat foto tersebut, sambil mengusapnya perlahan. Di mana dia sekarang? Apakah dia masih mengingatku, atau sudah sukses me...

Andai.

Gambar
Sore itu membawa langkah kakinya menjauh dari peradaban untuk sementara. Entah bagaimana ceritanya sepasang kaki itu membawa dirinya pergi ke suatu tempat. Menyepi, sendiri. Menikmati suara alami yang ia rindukan. Menenangkan pikirannya dari berbagai carut-marut tugas duniawinya.                 Tak banyak hal yang ia lakukan. Hanya duduk seorang diri ditemani oleh hewan-hewan kecil yang sering kali lepas dari pantauan mata – semut, belalang, jangkrik, dan kawan-kawannya. Biasanya ia merasa risih dengan kehadiran hewan-hewan kecil itu, yang membuatnya merasa geli sendiri, entah mengapa. Namun hari ini, seolah ia telah bersahabat dengan kawan-kawan kecilnya.

Zebra Cross.

Gambar
Orang bilang, zebra cross hanya sekadar garis Sebuah penanda untuk   para penyebrang Demi keselamatan Yang dibuat oleh aparat penegak hukum Bukan, bagiku zebra cross lebih dari itu Bagiku, zebra cross sangat indah Meski hanyalah goresan cat putih yang mewarnai aspal abu kelam Tetapi menyimpan sejuta rasa

Refleksi 2016.

Masih hangat rasanya dalam ingatan, bagaimana milyaran manusia yang berpijak di atas bumi ini menantikan kehadiran tahun yang baru, tahun 2016. Ada yang menantikannya bersama orang-orang terkasih dengan beribadah bersama, berlibur bersama, atau justru ada yang menantikannya di rumah sendirian. Mungkin, jutaan kembang api telah dilontarkan ke atmosfer, menyisakan polusi udara tanpa kita sadari. Terompet-terompet dibunyikan dengan penuh semangat, untuk mengawali tahun yang baru. Dan tak lupa, resolusi, harapan, dan cita-cita didoakan pada malam pergantian tahun tersebut.                 Tak terkecuali aku. Tepat setahun yang lalu, aku di rumah. Berkumpul bersama keluarga dalam sebuah lingkaran kecil. Menantikan kehadiran tahun 2016 dengan memanjatkan doa pada Tuhan serta membuat resolusi-resolusi pribadi. Namun saat ini, di sinilah aku. Kembali dalam rumah yang sama, menantikan kehadiran tahun 2017. Bukankah...

the Twilight [1]

Ia terus tersenyum sendiri setiap kali teringat akan hari itu. Sabtu yang berawan, matahari berselimutkan awan, dan suasana alam yang begitu menyenangkan. Sore itu, ia mampu mendengar bunyi-bunyian alami. Nyanyian burung, senandung pepohonan yang ditiup angin, serta gemericik air pada sebuah kolam kecil. Pemandangan sekitar tampak hijau dan sangat luas. Suasana tenang dan nyaman benar-benar meliputinya kala itu. Bersama dia.             Sore itu, ia mampu bersyukur pada Tuhan. Bersyukur atas alam yang sangat luar biasa. Bersyukur atas tempat indah yang boleh ia kunjungi. Bersyukur atas pemandangan yang sangat memanjakan matanya. Bersyukur untuk udara sangat segar yang sudah lama tak dihirupnya. Bersyukur atas dia , yang menemaninya sore itu.

Happy Mother's Day!

Teruntuk seorang wanita yang tak pernah lelah memberikan 'ceramah' untukku. Teruntuk seorang wanita yang tak pernah lelah memberikanku  'pesan sponsor' sebelum aku mengambil pilihanku. Teruntuk seorang wanita yang tak pernah menyerah padaku. Teruntuk seorang wanita yang tak pernah berhenti menyebutkan namaku di setiap doanya. Teruntuk seorang wanita yang menjadi inspirator utamaku.

One Short Journey [part 03]

When you take time with God and listen to His voice, H e renews your strength and enables you to handle life. Untuk pagi ini, aku memutuskan untuk segera beranjak dari kasurku ketika aku sudah terbangun dari tidurku. Lagi, tidurku tak pulas, seperti ada sesuatu yang mengusik nyamannya tidur malam. Seolah takut, tidurku ini akan berlanjut hingga aku bangun kesiangan (whoops!).                 Meskipun semalam aku terjaga hingga tengah malam, pagi ini aku mampu bangun dengan keadaan yang bahkan lebih segar dibandingkan sehari sebelumnya. Kuputuskan untuk menikmati pagi hari yang indah ini dengan saat teduh pribadi di tempat yang agak terasing sambil ditemani bunyi-bunyi alami yang tak pernah kudengar di Surabaya.

One Short Journey [part 02]

When y ou take time with God and listen to His voice, H e renews your strength and enables you to handle life. Astaga, kenapa pagi hari datang begitu cepat?                 Rasanya, baru saja kupejamkan mataku dan kutarik selimutku hingga menutupi sekujur tubuhku. Kepalaku terasa sedikit pening akibat terbangun beberapa kali selama tidur malamku. Dan juga karena sebuah mimpi tak terduga yang tiba-tiba mengisi alam bawah sadarku selama istirahat malam. Tapi aku bersyukur sekali bangun lebih awal dari jadwal. Setidaknya aku punya kesempatan untuk meditasi alam sejenak, menenangkan diri dari hiruk pikuk Kota Pahlawan.                 Agak berbeda dari jadwal yang sudah di- floor -kan dua minggu sebelum acara, hari ini akan dibuka dengan sarapan. Dan seperti camp-camp lainnya, seusai sarapan akan diadakan kegiatan yang tak pe...

One Short Journey [part 01]

When you take time with God and listen to His voice, He renews your strength and enables you to handle life.                 Semilir angin yang membelah serta mengacaukan tatanan rambutku menyambut begitu kakiku menapak pada tanah tempat aku berpijak pada hari itu. Kuhirup udara yang segera mengisi kesegaran pada paru-paruku. Hawa sejuk meliputiku, membuat kulitku turut bernapas.                 Cuaca hari itu sangat sempurna bagiku. Tak panas, juga tak dingin. Matahari tampak malu-malu sehingga bersembunyi di balik awan stratus. Gemerisik suara dedaunan yang saling bergesekan serta kicauan burung dari kejauhan semakin menyempurnakan suasana siang itu. Ya, inilah alam. Alam ciptaan Tuhan yang sangat luar biasa.

Mungil dan Kupu

Mungil. Ya, ia mungil Di balik mahkota yang senantiasa menyelimutinya Di balik mahkota yang menyembunyikannya Ia merekah ketika musim semi tiba Namun mahkota itu segera rontok Ketika musim kemarau tiba Tak pernah ada lagi tanda-tanda Ia akan merekah kembali

Topeng

Gadis itu masih di sana Berdiri dan bertahan Tak peduli hujan kian deras menerpanya                 Hujan, hujan, dan hujan                 Tak hanya tetes air yang terjatuh

Out of this World

Jika aku punya sayap Mungkin kini aku sudah terbang Pergi mengasingkan diri Dari hiruk pikuk dunia ini                 Jangan hambatku pergi                 Jangan tahanku di sini                 Biarkan aku pergi                 Menciptakan duniaku sendiri

Box

Sehari penuh ia habiskan dalam ruangan itu. Ruangan yang bernuansa biru – warna favoritnya. Seharusnya, warna itu mampu memberikan ketenangan padanya. Setiap kali ia merasa gundah, dengan berada di ruang pribadinya saja ia mulai merasakan sedikit ketenangan. Namun kali ini tidak, ada sesuatu lain. Seolah ada hal lain yang justru menyingkirkan rasa tenang itu, dan menghadirkan kebimbangan.             Dunia ini terasa dingin, sangat dingin. Dunia ini selalu menghadirkan sejuta tanda tanya pada babak baru. Terkadang dunia membuatnya tersenyum. Terkadang dunia juga meluncurkannya pada titik terendahnya. Senyum yang selalu dipasangnya, tak mampu mengembang terus. Bunga saja dapat mengempis, demikian dengan senyumannya. Bagaikan topeng, senyum itu ia lepaskan ketika ia berada dalam ruang pribadinya.