Postingan

DKI 1: Tangga Menuju RI 1?

     Belum juga tahun 2016 ditutup, topik mengenai pemilihan gubernur dan wakil gubernur (pilgub) DKI Jakarta santer diberitakan, bahkan sudah dibicarakan sejak awal tahun 2016. Padahal, pemilihan ini baru akan diadakan pada awal tahun 2017 mendatang. Tidak heran jika topik ini menjadi trending topic diberbagai media serta pembicaraan hangat pada berbagai kalangan, terutama mereka yang bergerak di dunia politik dan masyarakat DKI Jakarta.      Poin utama dari pilgub ini adalah calon. Berbagai nama muncul silih berganti tanpa ada kepastian hingga memunculkan berbagai spekulasi. Tak hanya politikus dan praktisi hukum yang rindu akan jabatan DKI 1, tapi juga masyarakat awam serta pebisnis. Memang, jabatan ini sangat menggiurkan dan dapat dijadikan sebagai batu loncatan dalam dunia perpolitikan. Setelah berbulan-bulan penuh spekulasi dan tanda tanya, akhirnya pada 22 September 2016 lalu rasa penasaran publik terjawab, siapa yang mendaftar sebagai ...

Hujan

Hujan menyisakan sejuta cerita untuk dinikmati. Tiap tetesnya meninggalkan sejuta kenangan yang menjadi bagian dari masa lalu. Aliran airnya menyejukkan batin serta hati yang terasa kering. Dan itulah yang kurasakan, tiap kali hujan datang menghampiri hariku. Tak semua orang mencintai tetes hujan itu, termasuk aku. Dulu aku menyukai hujan. Ia hadir menawarkan nuansa kesegaran yang mampu meningkatkan semangat dan kemampuan berpikir logisku. Tiap kali hujan, selalu ada karya yang dapat kuhasilkan. Atau setidaknya, aku dapat menikmati secangkir kopi dan sepotong roti bakar dengan tenang sambil menyelesaikan tugas-tugasku.

Macet: Salah Siapa? [opinion]

Asap polusi dan suara bising klakson sudah menjadi teman akrabku semenjak aku kecil. Ya, mungkin itulah yang disebut sebagai salah satu 'karunia' berkampung halaman di sebuah kota metropolitan, kota terbesar kedua se-Indonesia. Ditemani sepeda motor matik merah itu, kuselusuri berbagai sudut kota. Tak banyak pemandangan yang berbeda. Kendaraan bermotor di mana-mana. Bahkan, jika dilihat-lihat, sepeda motor yang baru lepas dari pemberhentian oleh lampu lalu lintas tampak seperti lebah yang baru keluar dari sarangnya. 

Deep Breath

Gambar
Sejuta pertanyaan muncul di benakku Tak pernah ada satupun jawab yang terpikirkan Terlintas sedikitpun tidak Namun rasa penasaran ini terus menerus menghantuiku             Sudah kutanyakan rasa penasaran itu             Bahkan Dewi Athena dengan kebijaksanaannya tak memiliki jawabannya Sungguh, kuakui Teori Aristoteles ataupun Plato pun tak mampu memecahkan permasalahan ini

A Night To Remember

Gambar
Malam ini sangat cerah, terlampau cerah bahkan. Jutaan bintang bertaburan menghiasi langit malam, mewarnai atmosfer bumi ini. Rasi bintang Orion tampak jelas, sosok pemburu   besar yang gagah berani. Setitik cahaya Betelgeuse makin mempercantik malam ini.                 Angin berdesir, menghembuskan kesegaran bagiku, dan bagimu di tengah padang ini. Meski udara dingin membuatku gemetaran, kurasakan pancaran kehangatan dari senyumanmu yang tak hentinya mengembang. Cahaya kebahagiaan terpancar dari matamu. Mulutmu tak hentinya memuji karya agung Sang Pencipta.

Memories

Tidak semua kenangan itu indah, dan tidak semua kenangan itu pahit. Setiap pengalaman memiliki rasanya masing-masing. Terkadang, benda-benda, tempat-tempat, atau saat-saat tertentu melemparkanku kembali pada kenangan itu . Kenangan yang sudah lama ingin kulempar jauh-jauh.             Sudah berulang kali aku hampir berada pada situasi seperti ini. Tapi, selalu saja aku tidak siap. Berulang kali aku mendengar kabar rencana kepergiannya. Ada perasaan kalut yang berkecamuk dalam jiwaku, entah apa penyebabnya. Seharusnya aku tidak seperti ini. Seharusnya aku justru biasa saja, atau bahkan tidak memikirannya sama sekali.

Rindu

Tidak, aku tidak sendiri Sesak penuh keramaian Berjuta jenis suara mengalir menggetarkan gendang telingaku Tapi pikiranku sunyi senyap Sedang hati ini terasa kosong dan hampa Jerit rindu terus menggema Semua terasa berbeda dan lain dari biasanya Hati ini seolah mencari-cari apa gerangan yang telah lenyap Mencuil sebagian dari apa yang ada Mengosongkan kehangatan yang ada Meninggalkan bekas-bekas kebersamaan Yang kelamaan akan luntur Terbawa arus waktu

Rindu

Tidak, aku tidak sendiri Sesak penuh keramaian Berjuta jenis suara mengalir menggetarkan gendang telingaku Tapi pikiranku sunyi senyap Sedang hati ini terasa kosong dan hampa Jerit rindu terus menggema Semua terasa berbeda dan lain dari biasanya Hati ini seolah mencari-cari apa gerangan yang telah lenyap Mencuil sebagian dari apa yang ada Mengosongkan kehangatan yang ada Meninggalkan bekas-bekas kebersamaan Yang kelamaan akan luntur Terbawa arus waktu

Blessed 18

Hari ini adalah sebuah hari yang spesial Setahun lagi Tuhan tambahkan usia untukku Setahun lagi Tuhan memberikan kesempatan untukku lebih banyak berkarya Setahun lagi Tuhan mengutusku tetap di dunia 18 bukanlah sekadar angka  Yang digoreskan menggunakan pena dengan mudahnya 18 adalah sebuah bukti Bukti cinta kasih Tuhan yang sudah kunikmati 18 adalah sebuah pertanda Semakin berkurang waktuku di dunia ini Semakin banyak yang harus kulakukan

My very first novel : Dalam Pelukan Salju

Hello peeps! :) Finally! Shout to the Lord! Setelah proses yang panjang, pada hari yang spesial ini novel "Dalam Pelukan Salju" dirilis. Novel bergenre fantasi, petualangan, dan cinta ini merupakan novel perdana dari Regina Bella Rosari yang diterbitkan oleh @nulisbuku (on instagram). Ingin tahu lebih banyak tentang novel ini? Check di http://nulisbuku.com/ books/view_book/8800/ dalam-pelukan-salju God bless you all and happy holiday! Regina Bella Rosari Facebook: Regina Bella Rosari Instagram: reberoo_  / reberosdiary E-mail: reberoolin@gmail.com 

Broken Heart.

Mencintainya bukanlah hal yang mudah. Bertahun-tahun aku berusaha membuka hati untuk orang yang baru, tetapi tidak berhasil. Kini, ia hadir dalam hidupku. Ialah yang berhasil membuka pintu hatiku yang terkunci rapat, melembutkan perasaanku yang terlalu lama cuek, dan menghangatkan jiwaku di tengah serbuan angin kesendirian.             Ia memang bukanlah seorang yang secara fisik kuinginkan. Tepatnya, aku tidak pernah membayangkan ia sebagai seorang yang mengisi hari-hariku. Terlintas sekalipun tidak. Mungkin hanya sekadar teman biasa yang tidak begitu memiliki makna dalam hidupku.             Kini, aku mulai sadar bahwa aku terpesona dengan senyumannya yang selalu tampak sempurna. Bahkan terkadang aku merasa senyuman itu hanya ditujukan untuk diriku seorang. Aku juga terpesona dengan semua yang ia katakan. Ucapan yang keluar dari bibirnya selalu tersimpan dalam hati, seola...

1000 Camelia [part 16 - LAST PART]

Hai, Elena. Nanti malam bisa bertemu? Aku kangen banget .             Pesan itu muncul pada layar ponsel Elena begitu Elena membuka matanya. Suasana hatinya berubah menjadi sangat bahagia. Ia yakin, jika ia berkaca saat itu juga pasti pipi bulatnya sudah bewarna merah muda. Tanpa banyak berpikir panjang, Elena menyetujui permintaan Alan. Saking bahagianya menerima pesan dari Alan dipagi hari, Elena sampai melupakan suatu hal yang penting pada hari itu: hari ulang tahunnya. Bahkan, ia baru menyadari setelah Sofia, Evan, Joan, dan beberapa teman lainnya memberikan kejutan kecil untuk Elena. Tidak tampak Alan sama sekali, tapi Elena juga tidak berniat menanyakan keberadaan Alan. Lilin berangka dua puluh telah ia tiup. Sebelumnya, ia membuat sebuah harapan yang ia ucapkan pada malam sebelumya – keinginan bertemu dengan seorang misterius yang mengiriminya Bunga Camelia putih setiap hari.

1000 Camelia [part 15]

Sejujurnya, Elena berharap Alan memberikan jawaban yang lebih. Paling tidak memberikan pemecahan masalah dalam bentuk konkretnya. Tapi, entah mengapa jawaban Alan yang sebenarnya sama sekali tidak memuaskan itu dapat menenangkan hatinya. Setidaknya membuat pikirannya sedikit lebih jernih.             “Len, kamu nggak apa-apa?” tanpa Elena sadari Elvira sudah duduk di sampingnya, memeluk pundaknya. “Kamu kelihatan pendiam akhir-akhir ini. Cerita dong sama aku. Tentang pengirim bunga itu ya?”             “Aku nggak terlalu memikirkan itu, Vir. Toh nggak membahayakan, dan aku suka banget sama Bunga Camelia.”

1000 Camelia [part 14]

Beruntung sekali, Elena langsung menyetujui ajakan Evan tanpa banyak bertanya lebih lanjut. Biasanya, ia selalu kalah dalam memberikan alasan pada Elena. Mungkin, alam semesta bersekutu untuk mendukungnya untuk acara spesial malam ini.             Evan tidak sanggup menunggu lebih lama lagi. Semakin cepat langkah yang diambil, maka semakin bagus juga hasil yang akan diperoleh. Tidak ada harapan lainnya selain rencana berjalan lancar malam ini.

1000 Camelia [part 13]

Alan duduk termenung seorang diri di pinggir jendela kamarnya. Garis bibirnya tertarik sedikit membentuk senyuman tipis. Ia tidak habis pikir dengan dirinya sendiri, tentang apa yang baru saja ia lakukan sore tadi. Bisa dikatakan agak sedikit gila.             Tapi apa yang ia lakukan adalah sesuai kata hatinya. Alan juga merasa ada suatu kekuatan lain yang mengarahkan tangan dan kakinya untuk melakukan itu. Pandangannya terarah pada bulan purnama yang bersinar terang malam itu. Entahlah, ide gilanya selalu muncul ketika mendekati bulan purnama. Mungkin ada keterkaitan antara dirinya dan sang raja malam.             Alan tidak habis pikir dengan apa yang ia rasakan beberapa minggu terakhir ini. Pikirannya dan hatinya kadang tidak sejalan. Ia tidak yakin apa yang menyebabkannya. Yang pasti, ia merasa jauh lebih baik setelah berkunjung ke rumah itu. Mungkin perasaanku a...

1000 Camelia [Part 12]

Alan menyalahkan dirinya sendiri karena telah menolak tawaran Evan untuk mengantarnya pulang ke kostnya. Seharusnya ia menerima tawaran Evan dengan senang hati. Kini, ia kehujanan. Sialnya, ia tidak membawa payung ataupun jas hujan dalam tasnya.             Alan berlari kecil untuk mencari tempat berteduh. Tanpa ia sadari, kaki Alan terus berlari kecil yang mengarahkannya pada suatu tempat yang tidak asing baginya. Ya, Alan pernah mampir ke tempat ini sekitar empat bulan yang lalu, bersama Elena.             Entah apa yang membuat Alan otomatis kemari, dan secara otomatis juga membeli sebuket kecil Bunga Camelia bewarna putih. Bunga itu masih segar. Kelopaknya terasa sangat lembut saat disentuh. Beruntung, tak lama kemudian hujan reda dan Alan bisa segera pulang, dan menjalankan rencana yang tiba-tiba muncul di otaknya.

1000 Camelia [part 11]

3 bulan kemudian Elena sangat bersemangat hari ini. Akhirnya, hari yang dinantikannya telah datang – masa kuliah. Lebih tepatnya, kembali bersekolah. Elena sudah tidak tahan lagi berlama-lama di rumah. Pekerjaannya sebagai penulis dan fotografer freelancer belum cukup membuatnya merasa benar-benar produktif. Lagi pula, ia juga sudah tidak sabar mendapatkan teman-teman baru.             “Wih, adikku sudah gede.” Elvira tiba-tiba masuk kamar Elena ketika Elena merapikan pakainnya di depan kaca. “Sudah kuliah, ciye. ”             “Apaan sih, Vir. Berarti sudah tua dong kamu.” Kata Elena tanpa sedikit pun menoleh ke arah Elvira.             “Enak aja tua.” Gumam Elvira. “Ayo, cepet. Sudah keburu nih. Katanya kuliah jam delapan? Sekarang sudah jam 7.15.”

1000 Camelia [part 10]

Pemandangan di perpustakaan itu cukup menyakitkan bagi Evan. Alan dan Elena tampak sangat akrab. Padahal, setahu Evan, Elena tidak bisa langsung akrab dengan laki-laki. Pasti ada kecanggungan, sikap dingin, dan cuek pada awalnya – seperti yang ia lakukan pada Evan dan Joan pada awalnya.             Tidak, aku tidak boleh berpikiran aneh-aneh , kata Evan pada dirinya sendiri. Alan sudah ia beritahu mengenai perasannya pada Elena. Ia yakin seratus persen Alan tidak berusaha membuat Elena terpesona padanya. Tapi Evan tidak akan pernah melarang Elena dan Alan untuk tetap bersahabat.             Satu kalimat ternyata cukup untuk memastikan bahwa Alan sudah menyukai Sofia, sahabat Elena. Semoga satu kalimat itu membuat Elena hanya ‘melihatnya’, tidak ‘melihat’ yang lain. Mungkin ini tidak adil dan terkesan egois. Tapi ini urusan hati.       ...

1000 Camelia [part 09]

Depot itu terletak tidak jauh dari perpustakaan. Cukup dijangkau dengan kurang dari lima menit perjalanan kaki. Meski tidak terlalu besar, depot itu cukup terkenal di antara anak muda, terutama anak kost karena makanannya yang enak, porsi cukup besar, dan harga yang ramah kantong.             Awalnya, Alan tidak terlalu paham apa maksud Evan ‘ada yang bakal berubah setelah makan’. Yang berubah setelah makan, tentu saja perut kenyang, bukan? Itulah pemikiran Alan saat di perpustakaan. Tapi, kini ia mengerti apa maksud Evan.             Gadis yang duduk di depannya itu tampak sangat menikmati makannya. Raut wajahnya juga berubah. Alan tidak tahu apakah raut wajah yang dilihatnya di perpustakaan itu asli atau hanya pura-pura. Alan menduganya itu adalah raut wajah yang asli. Kini, setelah hampir semangkuk bakso dan segelas es degan habis dilahapnya, raut wajah gadis itu ber...

1000 Camelia [part 08]

Elena bingung ketika tiba-tiba Evan mengajaknya pergi makan malam – tanpa Joan. Masakan ada masalah di antara Evan dan Joan yang tidak diketahui Elena? Entahlah. Terkadang, ada saja hal yang membuat Elena tidak memahami tingkah laku kedua sahabat laki-lakinya itu. Terkadang, laki-laki juga agak menyusahkan, dan susah dimengerti. Sejujurnya, Elena ingin sekali tahu dan menyelesaikan permasalahan itu sampai ke akarnya. Tidak peduli apakah memang benar ada masalah atau tidak, yang penting jika ada ketidakberesan menurut Elena adalah permasalahan. Namun, dengan berat hati Elena menolak ajakan Evan. Akhir-akhir ini, ia semakin sibuk dengan pekerjaan barunya sebagai penulis dan fotografer freelancer .