Postingan

On that Saturday Night [part 2]

Jam sudah menunjukkan tepat pukul sepuluh malam ketika aku memasuki kamarku. Seperti biasa, aku selalu pulang malam. Rekor pulang tercepat adalah pukul sembilan malam.           "Kebiasaanku" ini sudah berlangsung selama satu tahun. Semenjak kejadian itu. Ya, semenjak kejadian itu  aku memutuskan untuk menyibukkan diri. Aku tidak ingin ada waktu senggang yang membuatku bisa teringat lagi pada dia yang sudah menyakiti hatiku.           Aku menyalakan laptop yang sudah terbuka di atas meja belajarku. Sambil menunggu laptop menyala, aku membersihkan diri, kemudian berganti pakaian. Kutata persiapan untuk sekolah esok hari. Kemudian, setelah semuanya selesai, aku kembali pada laptopku yang sudah siap dioperasikan.          Sebuah notifikasi e-mail baru langsung muncul setelah kugerakkan kursor sesaat. Nathan Josiah . Ada apa anak itu mengirimiku e-mail? Sepertinya tidak ada tugas yang berkelompok dengannya...

On that Saturday Night [part 1]

Jantungku kembali berdegup dengan cepat. Aku tidak tahu apa yang menyebabkannya. Seharusnya hal ini tidak terjadi. Sudah satu bulan aku bersekolah di tempat ini. Seharusnya tak ada lagi perasaan seperti hari pertama masuk sekolah. Seharusnya aku juga tidak merasa seperti ini ketika duduk di samping seorang laki-laki yang bahkan belum kukenal.           Dia - yang sejak awal sekolah duduk di sampingku, tiba-tiba mengajakku bicara - pada akhirnya. Biasanya, menolehkan wajahnya ke arahku sesentipun  tidak. Pandangannya selalu lurus ke depan tidak ada juga senyuman yang tergores pada bibir tipisnya.           "Halo," katanya pelan. Suaranya terdengar ringan, dan cukup menarik.           "Um, hai." jawabku. Jantungku berdegup kian cepat, kuharap ia tidak mendengarnya, atau andai saja kelas ini tidak sesunyi saat ini.