Macet: Salah Siapa? [opinion]

Asap polusi dan suara bising klakson sudah menjadi teman akrabku semenjak aku kecil. Ya, mungkin itulah yang disebut sebagai salah satu 'karunia' berkampung halaman di sebuah kota metropolitan, kota terbesar kedua se-Indonesia. Ditemani sepeda motor matik merah itu, kuselusuri berbagai sudut kota. Tak banyak pemandangan yang berbeda. Kendaraan bermotor di mana-mana. Bahkan, jika dilihat-lihat, sepeda motor yang baru lepas dari pemberhentian oleh lampu lalu lintas tampak seperti lebah yang baru keluar dari sarangnya. 
Aksi saling serobot demi mendapatkan bagian paling depan sudah menjadi pemandangan yang biasa. Tak hanya motor, mobil pun demikian. Kadang aku bertanya-tanya, apakah dengan aksi saling serobot tersebut dapat menguntungkan semua pihak? Atau setidaknya, apakah sekian detik sedemikian berartinya hingga rasa toleransi dan bahkan keselamatan diri sendiri menjadi taruhannya? Ya, kadang aku tak habis pikir dengan dunia yang kian tua ini. Tidak kusebut dewasa, karena memang sifat kedewasaan tak nampak jelas dari perilaku penduduk bumi ini. Hampir setiap orang di dunia ini merasa dirinya paling penting, yang harus selalu diutamakan, hingga orang lain mesti mengalah. Sungguh merupakan kenyataan yang pahit jika dilihat lebih saksama. Rem semakin jarang digunakan, klakson makin sering dibunyikan. Apakah dengan klakson maka semuanya akan berjalan dengan lebih lancar? Menurut pendapat saya, tidak. Justru, akan membuat hal-hal lain makin carut-marut. Emosi akan terpancing dan saling mendahului satu-sama lain akan menjadi suguhan disaat macet. Kadang aku memberanikan diriku untuk membayangkan, bagaimana keadaan kota ini jika setidaknya terjadi minimalisir klakson dan penggunaan gas pada kendaraan bermotor secara berlebihan. Tentu, keseimbangan akan lebih terjamin. Tidak ada penumpukan kemacetan yang berlebihan jika ada rasa saling toleransi dan ketaatan dalam berlalu lintas. Bukankah merah berarti berhenti, hijau berarti berjalan, dan kuning berarti kita mesti menurunkan laju kecepatan? Tapi kini sepertinya sudah berganti sebaliknya. Ya, hal itu dapat meningkatkan kemacetan, dan kemacetan itu justru merugikan kita sebagai pengguna lalu lintas. Tidak perlu menyalahkan satu sama lain siapa biang kerok dari kemacetan. Kuberanikan diriku untuk bermimpi tentang suatu dunia yang baru, yang jauh berbeda dari saat ini, ketika masalah lalu lintas bukan sekadar obrolan yang sering dibahas namun tanpa solusi. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cahaya di Penjuru Hati: Sebuah kisah yang menyihir setiap insan pembaca

Menyelisik Tubuh Gereja HKY Surabaya

Di Balik Cerita Manis Itu - Part 1