Hujan

Hujan menyisakan sejuta cerita untuk dinikmati. Tiap tetesnya meninggalkan sejuta kenangan yang menjadi bagian dari masa lalu. Aliran airnya menyejukkan batin serta hati yang terasa kering. Dan itulah yang kurasakan, tiap kali hujan datang menghampiri hariku.

Tak semua orang mencintai tetes hujan itu, termasuk aku. Dulu aku menyukai hujan. Ia hadir menawarkan nuansa kesegaran yang mampu meningkatkan semangat dan kemampuan berpikir logisku. Tiap kali hujan, selalu ada karya yang dapat kuhasilkan. Atau setidaknya, aku dapat menikmati secangkir kopi dan sepotong roti bakar dengan tenang sambil menyelesaikan tugas-tugasku.



Namun kini, hujan yang hadir tak lagi sama. Ada kenangan lain yang timbul setiap kali hujan. Itu semua berlangsung semenjak waktu itu. Aku ingat tiap detail kejadian itu, bak seorang penulis skenario menilai drama yang dirancangnya. Ia merangkulku secara lembut di bawah payung bewarna abu-abu itu. Aku ingat bagaimana caranya memandang, bagaimana caranya tersenyum, dan bagaimana caranya berucap. "Semoga kau merasa hangat, demikian juga hatimu," katanya setengah berbisik tepat di telingaku. Ucapannya menggetarkan batinku. Belum sempat aku membalas perkataanya, kembali ia berucap, "Tak perlu khawatir jika hujan semakin deras. Aku akan tetap di sini, menemanimu sampai segalanya berakhir." Kurasakan tangannya mendekapku lebih dalam pada pelukannya. Tak ada kata-kata yang sanggup kuungkapkan. Yang kumiliki hanya seulas senyum beserta hati yang luar biasa bahagia. Tepat pada saat itu, kuharap waktu akan berhenti bergulir, atau setidaknya melambat, demi saat-saat indah bersamanya.

Awalnya aku sangat menikmati kenangan itu. Bahkan aku sering mengharapkan kehadiran hujan meskipun matahari bersinar terik. Sisi kesempurnaan ketika hujan datang selalu membayangi hari-hariku. Tak ada keraguan sedikitpun. Tak perlu dipertanyakan lagi, apa arti dari kisah ini.

Namun segalanya berubah dengan begitu drastis. Kenangan manis ketika hujan sirna dengan seketika. Janji yang terucap hanyalah sekadar kata yang terlalu basi untuk diungkap.

Benar apa kata orang. Hujan mampu menciptakan suasana romantis, namun di sisi lain aliran airnya mampu menghapuskan suasana romantis yang ada.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Cerita Manis Itu - Part 1

Cahaya di Penjuru Hati: Sebuah kisah yang menyihir setiap insan pembaca

Menyelisik Tubuh Gereja HKY Surabaya