On that Saturday Night [part 2]

Jam sudah menunjukkan tepat pukul sepuluh malam ketika aku memasuki kamarku. Seperti biasa, aku selalu pulang malam. Rekor pulang tercepat adalah pukul sembilan malam.
          "Kebiasaanku" ini sudah berlangsung selama satu tahun. Semenjak kejadian itu. Ya, semenjak kejadian itu aku memutuskan untuk menyibukkan diri. Aku tidak ingin ada waktu senggang yang membuatku bisa teringat lagi pada dia yang sudah menyakiti hatiku.
          Aku menyalakan laptop yang sudah terbuka di atas meja belajarku. Sambil menunggu laptop menyala, aku membersihkan diri, kemudian berganti pakaian. Kutata persiapan untuk sekolah esok hari. Kemudian, setelah semuanya selesai, aku kembali pada laptopku yang sudah siap dioperasikan.
         Sebuah notifikasi e-mail baru langsung muncul setelah kugerakkan kursor sesaat. Nathan Josiah. Ada apa anak itu mengirimiku e-mail? Sepertinya tidak ada tugas yang berkelompok dengannya.
         Sebuah buah gambar dikirimkannya pada e-mail itu. Beri tau aku jika kau sudah melihat gambar ini, begitu tulisnya di bagian badan e-mail. Gambar itu membuatku tegang dan ditelan dunia untuk sesaat. Tidak, gambar itu mengingatkanku pada suatu hal yang sama sekali tidak ingin kulihat.
         "Halo, sayang." panggil ibuku lembut tiba-tiba tanpa mengetok pintu kamar terlebih dahulu. Aku hampir saja terjatuh dari kursi kalau saja ibuku tidak menahan. "Ada apa, kok kagetnya sampai seperti itu?"
         "Mama mengejutkanku." kataku sambil menutup layar laptop. "Tadi kalau mama tidak cepat 'kan aku bisa saja jatuh, dan"
         "Buktinya sekarang kau tidak jatuhkan, Abbey?" Ibuku tersenyum hangat padaku. "Bagaimana kabarmu?"
         "Bagaimana kabarku? Ya, seperti yang mama lihat sekarang. Aku baik-baik saja." aku tersenyum. "Memangnya kenapa tiba-tiba menanyakan kabarku?"
         "Tidak apa-apa. Mama ingin memastikan anak bungsu mama baik-baik saja." Ibuku merangkulku lembut. "Mama pikir sudah saatnya kau mengurangi kegiatanmu. Mama tidak ingin kursus-kursusmu mengganggu jadwal belajarmu. Kau tahu, tahun akhir sekolah selalu padat dengan berbagai kegiatan."
         "Tidak." aku cepat-cepat menolak gagasan ibuku. "Aku baik-baik saja. Aku bisa mengatur waktuku dengan baik. Sejauh ini, nilaiku tidak ada yang bermasalahkan, ma?"
         "Abbey, mama tahu sebenarnya kau masih memikirkan dia." Ibuku menangkup pipi bulatku dengan kedua tangannya. "Tolong, kurangi aktivitasmu. Kau bisa mengalihkan pikiranmu dengan belajar juga. Jangan sampai kau kelelahan dan nantinya jatuh sakit."
         Aku memegang tangan ibuku. "Aku janji aku akan menjaga diriku baik-baik dan bisa mengatur waktu."
         Ibuku mendesah pelan. "Baiklah kalau memang itu keputusanmu."
         Aku kembali membuka layar laptopku ketika ibu sudah keluar dari kamar. Aku tahu kalau ibu pasti sudah melihat gambar itu  gambar yang penuh kenangan. Kuputuskan untuk kembali menutup laptop, dan meringkuk di atas kasur. Lebih baik aku tidur daripada mengenang masa lalu lagi.

***

          Delapan belas bulan yang lalu...
          "Hei, Abbey. Coba cek e-mailmu. Aku mengirimimu sesuatu. Kuharap kau menyukainya." kata Adrian dari ujung telepon sana.
          Abbey tersenyum. Pipi bulatnya merona merah karena bahagia. "Sebentar, Adrian. Aku baru saja tiba di rumah. Aku sedang melesat ke kamarku saat ini." Adrian tertawa, begitu pula Abigail. "Argh! Koneksi internetnya gangguan."
          "Wah, sayang sekali. Padahal aku berharap dapat mendengar komentarmu saat ini juga."
          "Kalau begitu, beri tahu aku apa isi e-mailnya."
          "Tidak. Itu kejutan. Berdoalah agar koneksi internetmu membaik."
          "Huh!" gumam Abigail kesal. Adrian hanya tersenyum mendengar pacarnya seperti itu. Seb-enarnya, mereka lahir ditahun yang sama. Hanya saja, Adrian lahir pada bulan Januari sedangkan Abigail lahir pada bulan Desember. Hal itu membuat mereka terkesan mereka seperti berbeda usia satu tahun. 
          "Nah, akhirnya koneksi internetku berjalan!" jerit Abigail bahagia. Ia mendekatkan wajahnya pada layar laptop sambil bertopang dagu, berharap agar bisa secepatnya melihat kiriman e-mail Adrian.
           "Astaga, Abigail Kimberly. Kau hampir saja menulikan telinga seorang Adrian."
          "Maaf, Adrian. Kau tahu sendiri saat ini aku sedang bersemangat." Abigail tersenyum, kemu-dian menekan gambar yang dilampirkan di e-mail Adrian. "Wow, Adrian. Indah sekali gambar ini!"
           Adrian tersenyum. "Kau menyukainya?"
          "Menyukainya? Astaga, Adrian! Aku jatuh cinta pada diriku yang ada digambar ini. Kau         menggambarnya dengan sangat cantik dan sempurna seperti diriku. Ah, maksudku gambarnya yang sempurna, bukan aku."
       "Apapun katamu itu, aku senang mendengar bahwa kau menyukai bahkan mencintai gambar itu." kata Adrian.
         "Kau tidak memberiku gambar yang aslinya?" tanya Abigail.
         "Aku sudah memberikan banyak gambar padamu, Abbey. Tapi berhubung aku sangat menyukai gambar ini juga, giliranku untuk menyimpannya, oke?" kata Adrian. Terdengar Abigail mengerang dari ujung telepon. "Karena aku suka melihatmu mengenakan gaun biru itu."
         "Benarkah? Kau menyukai aku atau gaunnya?"
        "Biar kuulangi kata-kataku. Aku suka melihatmu mengenakan gaun biru itu." kata Adrian dengan tegas. "Tapi omong-omong, aku menyukaimu kapan saja, apapun gayamu saat itu."
      "Adrian, bisaka kau berhenti untuk membuatku tersenyum saat ini? Aku lelah tersenyum terus dan aku merasa kepanasan dengan pipi yang merona seperti ini." Adrian mendengar perkataan Abigail sambil menahan tawanya. "Kau tahu 'kan aku tidak ingin mendapatkan kerutan wajah diusia 16 tahun?"

***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Cerita Manis Itu - Part 1

Cahaya di Penjuru Hati: Sebuah kisah yang menyihir setiap insan pembaca

Menyelisik Tubuh Gereja HKY Surabaya