On that Saturday Night [part 1]

Jantungku kembali berdegup dengan cepat. Aku tidak tahu apa yang menyebabkannya. Seharusnya hal ini tidak terjadi. Sudah satu bulan aku bersekolah di tempat ini. Seharusnya tak ada lagi perasaan seperti hari pertama masuk sekolah. Seharusnya aku juga tidak merasa seperti ini ketika duduk di samping seorang laki-laki yang bahkan belum kukenal.
          Dia - yang sejak awal sekolah duduk di sampingku, tiba-tiba mengajakku bicara - pada akhirnya. Biasanya, menolehkan wajahnya ke arahku sesentipun  tidak. Pandangannya selalu lurus ke depan tidak ada juga senyuman yang tergores pada bibir tipisnya.
          "Halo," katanya pelan. Suaranya terdengar ringan, dan cukup menarik.
          "Um, hai." jawabku. Jantungku berdegup kian cepat, kuharap ia tidak mendengarnya, atau andai saja kelas ini tidak sesunyi saat ini.
         "Jangan malu-malu. Aku tahu kau murid baru di sini. Aku akan menjadi temanmu." Bibirnya menampilkan senyuman sedikit miring, sangat mempesona.
          "Terima kasih." Aku tersenyum padanya. Kurasakan pipiku mulai memanas, semoga tidak memerah.
       Astaga. Sungguh, ia membuatku merasa sangat ... entahlah. Aku tidak bisa mengungkapkan perasaanku. Baru pertama kali ini
          Mungkin sudah saatnya untuk membuka hati bagi seseorang yang baru, untuk mewarnai hariku yang kelabu.
          "Hei, kau melamun ya?" dia menggerak-gerakkan tangannya tepat di depan wajahku. 
          Astaga, aku melamun. Tanpa kusadari, kelas mulai gaduh. Ada tulisan di papan yang memerintahkan kami untuk mengerjakan tugas Kimia. "Eh, maaf. Aku sedang sedikit berpikir tentang..."
          "Tentang apa?" tanyanya. Badannya diputar menghadap kepadaku.
          "Tentang..." aku terdiam sejenak. Tidak ada yang kupikirkan selain dia. "Tentang tugas Kimia itu. Ya, tentang tugas Kimia itu. Aku masih tidak terlalu paham dengan materi pembelajarannya."
          "Oh, benarkah?" Ia menarik bukunya keluar dari tas selempang yang sedari tadi digeletakannya di atas lantai. "Biar kuajarkan padamu... Abigail." Ia mengeja namaku yang tertulis pada buku Kimia yang kupegang dengan pelan, lalu tersenyum padaku. "Nama yang cantik."
          "Terima kasih." kataku. "Kau Nathan, benar?"
          "Ya, tepat sekali. Nathan Josiah." sekali lagi ia tersenyum. "Oke, ayo kita mulai kerjakan tugas Kimia ini, Abbey, selagi aku menjelaskannya padamu."
           "Abigail saja, jangan Abbey." kataku. Nama itu membuatku teringat pada seseorang di masa lalu, dan aku tidak ingin mengingatnya kembali. 
           "Nama itu terdengar manis dan cocok untukmu."
          Kuharap pipiku tidak memerah mendengarnya mengucapkan manis. "Tidak, tolong, Nathan. Abigail saja, jangan Abbey."
         Ia menatapku dengan curiga. "Oke, baiklah Abigail Kimberly. Aku akan memanggilmu dengan Abigail." Ia menuliskan sesuatu di atas buku agendanya. Di atas buku agendanya tertulis: 'ABIGAIL, BUKAN ABBEY' dengan dua garis bawah berwarna hitam yang tebal.
          "Untuk apa kau menuliskan namaku pada buku agendamu?" 
        "Agar aku mudah mengingat nama panggilanmu adalah Abigail, bukan Abbey karena kau tidak suka dipanggil dengan nama yang terdengar imut itu." Ia menutup buku agendanya, lalu mendekatkan bibirnya ke telingaku dan berbisik lembut. "Jangan kau kira aku tidak tahu kalau sebenarnya kau tidak memikirkan tugas Kimia itu, Abbey."

***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cahaya di Penjuru Hati: Sebuah kisah yang menyihir setiap insan pembaca

Di Balik Cerita Manis Itu - Part 1

Menyelisik Tubuh Gereja HKY Surabaya